Kamis, 02 Januari 2014

Menjenguk Tuhan

Pada pagi hari di hari lebaran yang lalu, Mas Mono tidak muncul di tempat sholat Idh. Padahal boleh dibilang, sebagian besar warga kampung tumplek blek disana dalam suasana khusyuk sekaligus gembira.

Ketidak hadiran Mas Mono banyak dipertanyakan orang. Ya, apabila pada kesempatan yang agung seperti sholat Id, lelaki paruh baya itu tidak terlihat, pasti ada sesuatu yang terjadi atas dirinya. Maka setelah selesai sholat dan bersalaman dengan sesama warga kampung, saya langsung menuju rumah Mas Mono. Den Beni dan Kang Manto yang mengetahui rencana saya sontak bergabung.

Sampai di tujuan kami mendapati rumah Mas Mono terlihat sepi. Pintu depan tertutup. Anehnya, dari dalam terdengar suara radio menggemakan takbir. Den Beni memanggil-manggil pemilik rumah, tak ada jawaban. Kami saling berpandangan karena kami mulai cemas, jangan-jangan telah terjadi sesuatu yang serius terhadap orang yang sering kami ajak jagongan ini. Saya usul agar Pak RT diberitahu, sebab siapa tahu ia kena musibah tersengat listrik misalnya. Ya, saya bergerak menuju ke rumah Pak RT.

Tetapi belum jauh kaki melangkah, tiba-tiba kami mendengar suara orang terbatuk dari gubug agak di belakang rumah Mas Mono. Itu rumah liliput yang ditinggali sendiri oleh Nek Tim. Kami bertiga sepakat pergi ke gubug itu dan menemukan Mas Mono sudah berada disana. Anehnya Mas Mono sudah necis dengan dandanan kain sarung serta kopiah baru. Baju kokonya putih bersih seperti orang yang siap pergi ke masjid.

“Kok sampeyan masih disini?“ tanya Den Beni. “ Kenapa tidak ikut sholat Idh?“

Mas Mono tidak segera menjawab karena Nek Tim yang tergeletak lemah di balai bambu kembali terbatuk, dan terus terbatuk lalu mengerang. Sosok tubuhnya yang tampak sangat ringkih hampir lenyap di balik selimut kain lusuh. Kami merasa terjebak oleh suasana haru. Apalagi setelah kami mengetahui lebih jelas keadaan di dalam gubug itu; tak ada makanan atau minuman apalagi obat-obatan.

“Tadi pagi sebenarnya saya sudah siap berangkat ke tempat sholat Idh. Tapi karena mendengar Nek Tim terus terbatuk, saya datang kemari." Mas Mono mencoba memberi penjelasan.

“Lalu sampeyan tak tega meninggalkan dia seorang diri?“ tanya saya.

Mas Mono mengangguk, dan wajahnya kelihatan ragu. “Karena menemani Nek Tim sehingga tak bisa pergi sholat Idh, apakah saya salah?“ tanya Mas Mono dengan pandangan mata tertuju kepada saya.

Den Beni dan Kang Manto pun berbuat sama sehingga saya merasa jadi pusat perhatian. Entahlah, pertanyaan Mas Mono terasa langsung menusuk dasar iman saya. Ya Tuhan, saya merasa malu karena tiba-tiba saya teringat pernyataan Tuhan sendiri bahwa barang siapa menjenguk si sakit, si haus, dan si lapar, maka berarti dia telah menjenguk Tuhan. Dan ternyata Mas Mono-lah yang telah melakukan kesalehan tersebut. Saya merasakan adanya ironi yang tajam karena sangat boleh jadi Mas Mono justru belum tahu akan adanya pernyataan Tuhan itu. Nek Tim terbatuk lagi, kering dan dalam.

“Wong ditanya kok malah bengong,“ kalimat Den Beni mengejutkan saya.

“Ya Den, saya sangat percaya tak ada kesalahan apa pun pada diri Mas Mono yang tidak pergi sholat Idh demi menemani Nek Tim.“

“Ah apa iya?“ tanya Kang Manto. “Meninggalkan sholat Idh untuk menjaga orang sakit, apakah tidak berarti lebih mengutamakan kepentingan manusia ketimbang kepentingan Tuhan?“

Lagi, dasar iman saya terasa tertusuk, kali ini oleh pertanyaan Kang Manto. Karena gelisah, saya tak bisa segera bicara. Pikiran saya melayang. Oh, alangkah banyak orang lupa bahwa hakikat ibadah adalah penyebarluasan kasih sayang Ilahi di dunia agar manusia berjumpa dengan Tuhan dalam rahmatullah kelak. Dan pagi ini Mas Mono memang telah meninggalkan sholat Idh. Namun sebagai penggantinya lelaki tersebut telah melakukan ibadah maknawi yang sangat tinggi nilainya. Mas Mantri telah menunaikan silaturahmi paling hakiki antar sesama manusia, sekaligus menziarahi Tuhan seperti telah dinyatakan dalam sabda Dia sendiri. Silaturrahmi macam itu terang lebih maknawi daripada sholat (sunah) Idh, serta salam-salaman yang masih bersifat simbolis.

“Eeeee… kamu kok jadi pelamun?“ tegur Kang Manto. “Tadi saya bertanya, apakah tindakan Mas Mono pagi ini tidak berarti menomor satukan kepentingan manusia dan menomor duakan kesetiaan terhadap Tuhan?“

“Saya yakin tidak!“ Jawab saya sambil menelan ludah. “Soalnya begini, apabila sampai terjadi Nek Tim meninggal dalam keadaan merana, orang sekampung, terutama Mas Mono yang tinggal paling berdekatan yang berdosa. Bukankah seorang seperti Nek Tim ini merupakan amanat Tuhan bagi kita semua? Lagi pula sholat Idh hukumnya kan sunah. Sementara menyantuni fakir miskin hukumnya wajib. Jadi pagi ini Mas Mono telah meninggalkan perkara sunah demi melakukan pekerjaaan wajib. Maka tidak salah bukan?“

Den Beni dan Kang Manto diam, saya kira pegawai kantor kecamatan dan tukang becak lugu itu bisa memahami omongan saya.

“Kita tidak layak terlalu banyak omong di hadapan Nek Tim yang sedang sakit,“ Mas Mono tiba-tiba bicara. “Kita harus segera melakukan pertolongan nyata. Saya mau pergi ke apotik jaga, cari obat sementara. Saya minta Kang Manto pergi ke kecamatan tetangga memberitahu kerabat Nek Tim.“

“Saya akan mengambil termos dan makanan,“ kata saya.

“Lalu saya kebagian apa?“ tanya Den Beni. 


“Sementara kami pergi, tungguilah Nek Tim disini,“ jawab Mas Mono.

“Jadi kita tidak melakukan silaturahmi dan salam-salaman? Ini kan hari lebaran?“ tanya Den Beni lagi.

“Ya inilah silaturahmi yang sebenar-benarnya“ jawab Kang Manto.

Ah ternyata tukang becak lugu itu bisa menjawab dengan tepat pertanyaan Den Beni. Kemudian Mas Mono, saya dan Kang Manto berangkat. Pagi ini kami merasakan sentuhan hakikat persaudaraan sejati. Karena pagi ini kami mengikuti Mas Mono menjenguk Tuhan.



Dari Abu Hurairah ra., ia berkata, “Rasulullah saw. Bersabda, “Sesungguhnya Allah Yang Maha Besar berfirman pada hari kiamat, “Wahai anak Adam, Aku sakit namun kamu tidak menjenguk-Ku.” Ia berkata, “Wahai Tuhan saya, bagaimana saya menjenguk- Mu, sedang Engkau adalah Tuhan semesta alam?” Dia berfirman, “Tidakkah kamu mengetahui bahwa hamba- Ku Fulan sakit, namun kamu tidak menjenguknya? Tidakkah kamu mengetahui, seandainya kamu menjenguknya, niscaya kamu mendapati Aku di sisinya. Wahai anak Adam, Aku minta makan kepadamu, namun kamu tidak memberi-Ku makan.” Ia berkata, “Wahai Tuhan saya, bagaimana saya memberi makan kepada-Mu, sedangkan Engkau Tuhan semesta alam?” Allah berfirman, “Tidakkah kamu mengetahui bahwa hamba Ku si Fulan minta makan kepadamu, tetapi kamu tidak memberinya makan? Apakah kamu tidak mengetahui bahwa seandainya kamu memberinya makan, niscaya kamu mendapatkannya di sisi-Ku? Wahai anak Adam, Aku minta minum kepadamu, tapi kamu tidak memberiku minum.” Ia berkata, “Bagaimanakah saya memberi-Mu minum, sementara Engkau adalah Tuhan semesta alam?” Allah berfirman, “Hambaku si Fulan minta minum kepadamu, tetapi kamu tidak memberinya minum. Sesungguhnya seandainya kamu memberinya minum, niscaya kamu mendapatinya di sisi-Ku.”

 

Diceritakan oleh Kang HIAS.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar