Rabu, 25 Desember 2013

Diatas Sajadah Cinta



Kota Kufah terang oleh sinar purnama. Semilir angin yang bertiup dari utara membawa hawa sejuk. Sebagian rumah telah menutup pintu dan jendelanya. Namun geliat hidup kota Kufah masih terasa. 

Di serambi masjid Kufah, seorang pemuda berdiri tegap menghadap kiblat. Kedua matanya memandang teguh ke tempat sujud. Bibirnya bergetar melantunkan ayat-ayat suci Al-Quran. Hati dan seluruh gelegak jiwanya menyatu dengan Tuhan, Pencipta alam semesta. 

Orang-orang memanggilnya “Zahid” atau “Si Ahli Zuhud”, karena kezuhudannya meskipun ia masih muda. Dia dikenal masyarakat sebagai pemuda yang paling tampan dan paling mencintai masjid di kota Kufah pada masanya. Sebagian besar waktunya ia habiskan di dalam masjid, untuk ibadah dan menuntut ilmu pada ulama terkemuka kota Kufah. Saat itu masjid adalah pusat peradaban, pusat pendidikan, pusat informasi dan pusat perhatian. 

Pemuda itu terus larut dalam samudera ayat Ilahi. Setiap kali sampai pada ayat-ayat azab, tubuh pemuda itu bergetar hebat. Air matanya mengalir deras. Neraka bagaikan menyala-nyala dihadapannya. Namun jika ia sampai pada ayat-ayat nikmat dan surga, embun sejuk dari langit terasa bagai mengguyur sekujur tubuhnya. Ia merasakan kesejukan dan kebahagiaan. Ia bagai mencium aroma wangi para bidadari yang suci. 

Tatkala sampai pada surat Asy Syams, ia menangis, 

“fa alhamaha fujuuraha wa taqwaaha.
qad aflaha man zakkaaha.
wa qad khaaba man dassaaha …”
(maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu jalan kefasikan dan ketaqwaan,
sesungguhnya, beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu,
dan sungguh merugilah orang yang mengotorinya …) 

Hatinya bertanya-tanya. Apakah dia termasuk golongan yang mensucikan jiwanya?

Ataukah golongan yang mengotori jiwanya? Dia termasuk golongan yang beruntung, ataukah yang merugi? 

Ayat itu ia ulang berkali-kali. Hatinya bergetar hebat. Tubuhnya berguncang. Akhirnya ia pingsan. 


Sementara itu, di pinggir kota tampak sebuah rumah mewah bagai istana. Lampu-lampu yang menyala dari kejauhan tampak berkerlap-kerlip bagai bintang gemintang. Rumah itu milik seorang saudagar kaya yang memiliki kebun kurma yang luas dan hewan ternak yang tak terhitung jumlahnya. 

Dalam salah satu kamarnya, tampak seorang gadis jelita sedang menari-nari riang gembira. Wajahnya yang putih susu tampak kemerahan terkena sinar yang terpancar bagai tiga lentera yang menerangi ruangan itu. Kecantikannya sungguh memesona. Gadis itu terus menari sambil mendendangkan syair-syair cinta, 

“in kuntu ‘asyiqatul lail fa ka’si
musyriqun bi dhau’
wal hubb al wariq …”
(jika aku pencinta malam maka
gelasku memancarkan cahaya
dan cinta yang mekar …)

Gadis itu terus menari-nari dengan riangnya. Hatinya berbunga-bunga. Di ruangan tengah, kedua orangtuanya menyungging senyum mendengar syair yang didendangkan putrinya. 

Sang ibu berkata, “Abu Afirah, putri kita sudah menginjak dewasa. Kau dengarkanlah baik-baik syair- syair yang ia dendangkan.” 

“Ya, itu syair-syair cinta. Memang sudah saatnya dia menikah. Kebetulan tadi siang di pasar aku berjumpa dengan Abu Yasir. Dia melamar Afirah untuk putranya, Yasir.” 

“Bagaimana, kau terima atau… ?” 

“Ya jelas langsung aku terima. Dia ‘kan masih kerabat sendiri dan kita banyak berhutang budi padanya. Dialah yang dulu menolong kita waktu kesusahan. Di samping itu Yasir itu gagah dan tampan.” 

“Tapi bukankah lebih baik kalau minta pendapat Afirah dulu?” 

“Tak perlu! Kita tidak ada pilihan kecuali menerima pinangan ayah Yasir. Pemuda yang paling cocok untuk Afirah adalah Yasir.” 

“Tapi, engkau tentu tahu bahwa Yasir itu pemuda yang tidak baik.” 

“Ah, itu gampang. Nanti jika sudah beristri Afirah, dia pasti juga akan tobat! Yang penting dia kaya raya.”

Pada saat yang sama, di sebuah tenda mewah, tak jauh dari pasar Kufah. Seorang pemuda tampan dikelilingi oleh teman-temannya. Tak jauh darinya seorang penari melenggak lenggokan tubuhnya diiringi suara gendang dan seruling. 

“Ayo bangun, Yasir. Penari itu mengerlingkan matanya padamu!” bisik temannya. 

“Be… benarkah?” 

“Benar. Ayo cepatlah. Dia penari tercantik kota ini. Jangan kau sia-siakan kesempatan ini, Yasir!” 

“Baiklah. Bersenang-senang dengannya memang impianku.” 

Yasir lalu bangkit dari duduknya dan beranjak menghampiri sang penari. Sang penari mengulurkan tangan kanannya dan Yasir menyambutnya. Keduanya lalu menari-nari diiringi irama seruling dan gendang. Keduanya benar-benar hanyut dalam kelenaan. 

Dengan gerakan mesra penari itu membisikkan sesuatu ketelinga Yasir, 

“Apakah Anda punya waktu malam ini bersamaku?” 

Yasir tersenyum dan menganggukan kepalanya. Keduanya terus menari dan menari. Suara gendang memecah hati. Irama seruling melengking-lengking. Aroma arak menyengat nurani. Hati dan pikiran jadi mati.

Keesokan harinya, usai shalat Dhuha, Zahid meninggalkan masjid menuju ke pinggir kota. Ia hendak menjenguk saudaranya yang sakit. Ia berjalan dengan hati terus berzikir membaca ayat-ayat suci Al-Quran. Ia sempatkan ke pasar sebentar untuk membeli anggur dan apel buat saudaranya yang sakit. 

Zahid berjalan melewati kebun kurma yang luas. Saudaranya pernah bercerita bahwa kebun itu milik saudagar kaya, Abu Afirah. Ia terus melangkah menapaki jalan yang membelah kebun kurma itu. Tiba-tiba dari kejauhan ia melihat titik hitam. Ia terus berjalan dan titik hitam itu semakin membesar dan mendekat. Matanya lalu menangkap di kejauhan sana perlahan bayangan itu menjadi seorang sedang menunggang kuda. Lalu sayup-sayup telinganya menangkap suara, 

“Toloong! Toloong!!” 

Suara itu datang dari arah penunggang kuda yang ada jauh di depannya. Ia menghentikan langkahnya. Penunggang kuda itu semakin jelas. 

“Toloong! Toloong!!” 

Suara itu semakin jelas terdengar. Suara seorang perempuan. Dan matanya dengan jelas bisa menangkap penunggang kuda itu adalah seorang perempuan. Kuda itu berlari kencang. 

“Toloong! Toloong hentikan kudaku ini! Ia tidak bisa dikendalikan!” 

Mendengar itu Zahid tegang. Apa yang harus ia perbuat. Sementara kuda itu semakin dekat dan tinggal beberapa belas meter di depannya. Cepat-cepat ia menenangkan diri dan membaca shalawat. Ia berdiri tegap di tengah jalan. Tatkala kuda itu sudah sangat dekat ia mengangkat tangan kanannya dan berkata keras, 

“Hai kuda makhluk Allah, berhentilah dengan izin Allah!” 

Bagai pasukan mendengar perintah panglimanya, kuda itu meringkik dan berhenti seketika. Perempuan yang ada dipunggungnya terpelanting jatuh. Perempuan itu mengaduh. Zahid mendekati perempuan itu dan menyapanya, 

“Assalamu’alaiki. Kau tidak apa-apa?” 

Perempuan itu mengaduh. Mukanya tertutup cadar hitam. Dua matanya yang bening menatap Zahid. Dengan sedikit merintih ia menjawab pelan, 

“Alhamdulillah, tidak apa-apa. Hanya saja tangan kananku sakit sekali. Mungkin terkilir saat jatuh.” 

“Syukurlah kalau begitu.” 

Dua mata bening di balik cadar itu terus memandangi wajah tampan Zahid. Menyadari hal itu Zahid menundukkan pandangannya ke tanah. Perempuan itu perlahan bangkit. Tanpa sepengetahuan Zahid, ia membuka cadarnya. Dan tampaklah wajah cantik nan memesona,

“Tuan, saya ucapkan terima kasih. Kalau boleh tahu siapa nama Tuan, dari mana dan mau ke mana Tuan?” 

Zahid mengangkat mukanya. Tak ayal matanya menatap wajah putih bersih memesona. Hatinya bergetar hebat. Syaraf dan ototnya terasa dingin semua. Inilah untuk pertama kalinya ia menatap wajah gadis jelita dari jarak yang sangat dekat. Sesaat lamanya keduanya beradu pandang. Sang gadis terpesona oleh ketampanan Zahid, sementara gemuruh hati Zahid tak kalah hebatnya. Gadis itu tersenyum dengan pipi merah merona, Zahid tersadar, ia cepat-cepat menundukkan kepalanya. “Innalillah. Astagfirullah”, gemuruh hatinya. 

“Namaku Zahid, aku dari masjid mau mengunjungi saudaraku yang sakit.” 

“Jadi, kaukah Zahid yang sering dibicarakan orang itu? Yang hidupnya cuma di dalam masjid?” 

“Tak tahulah. Itu mungkin Zahid yang lain.” kata Zahid sambil membalikkan badan. Ia lalu melangkah. 

“Tunggu dulu Tuan Zahid! Kenapa tergesa-gesa? Kau mau kemana? Perbincangan kita belum selesai!” 

“Aku mau melanjutkan perjalananku!” 

Tiba-tiba gadis itu berlari dan berdiri di hadapan Zahid. Terang saja Zahid gelagapan. Hatinya bergetar hebat menatap aura kecantikan gadis yang ada di depannya. Seumur hidup ia belum pernah menghadapi situasi seperti ini. 

“Tuan aku hanya mau bilang, namaku Afirah. Kebun ini milik ayahku. Dan rumahku ada di sebelah selatan kebun ini. Jika kau mau silakan datang ke rumahku. Ayah pasti akan senang dengan kehadiranmu. Dan sebagai ucapan terima kasih aku mau menghadiahkan ini.” 

Gadis itu lalu mengulurkan tangannya memberi sapu tangan hijau muda. 

“Tidak usah.” 

“Terimalah, tidak apa-apa! Kalau tidak Tuan terima, aku tidak akan memberi jalan!” 

Terpaksa Zahid menerima sapu tangan itu. Gadis itu lalu minggir sambil menutup kembali mukanya dengan cadar. Zahid melangkahkan kedua kakinya melanjutkan perjalanan. 


Saat malam datang membentangkan jubah hitamnya, kota Kufah kembali diterangi sinar rembulan. Angin sejuk dari utara semilir mengalir. 

Afirah terpekur di kamarnya. Matanya berkaca-kaca. Hatinya basah. Pikirannya bingung. Apa yang menimpa dirinya. Sejak kejadian tadi pagi di kebun kurma hatinya terasa gundah. Wajah bersih Zahid bagai tak hilang dari pelupuk matanya. Pandangan matanya yang teduh menunduk membuat hatinya sedemikian terpikat. Pembicaraan orang-orang tentang kesalehan seorang pemuda di tengah kota bernama Zahid semakin membuat hatinya tertawan. Tadi pagi ia menatap wajahnya dan mendengarkan tutur suaranya. Ia juga menyaksikan wibawanya. Tiba-tiba air matanya mengalir deras. Hatinya merasakan aliran kesejukan dan kegembiraan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Dalam hati ia berkata, 

“Inikah cinta? Beginikah rasanya? Terasa hangat mengaliri syaraf. Juga terasa sejuk di dalam hati. Ya Rabbi, tak aku pungkiri aku jatuh hati pada hamba-Mu yang bernama Zahid. Dan inilah untuk pertama kalinya aku terpesona pada seorang pemuda. Untuk pertama kalinya aku jatuh cinta. Ya Rabbi, izinkanlah aku mencintainya.” 

Air matanya terus mengalir membasahi pipinya. Ia teringat sapu tangan yang ia berikan pada Zahid. Tiba-tiba ia tersenyum, 

“Ah sapu tanganku ada padanya. Ia pasti juga mencintaiku. Suatu hari ia akan datang kemari.” 

Hatinya berbunga-bunga. Wajah yang tampan bercahaya dan bermata teduh itu hadir di pelupuk matanya.

Sementara itu di dalam masjid Kufah tampak Zahid yang sedang menangis di sebelah kanan mimbar. Ia menangisi hilangnya kekhusyukan hatinya dalam shalat. Ia tidak tahu harus berbuat apa. Sejak ia bertemu dengan Afirah di kebun kurma tadi pagi ia tidak bisa mengendalikan gelora hatinya. Aura kecantikan Afirah bercokol dan mengakar sedemikian kuat dalam relung- relung hatinya. Aura itu selalu melintas dalam shalat, baca Al-Quran dan dalam apa saja yang ia kerjakan. Ia telah mencoba berulang kali menepis jauh-jauh aura pesona Afirah dengan melakukan shalat sekhusyu’-khusyu’-nya namun usaha itu sia-sia. 

“Ilahi, kasihanilah hamba-Mu yang lemah ini. Engkau Mahatahu atas apa yang menimpa diriku. Aku tak ingin kehilangan cinta-Mu. Namun Engkau juga tahu, hatiku ini tak mampu mengusir pesona kecantikan seorang makhluk yang Engkau ciptakan. Saat ini hamba sangat lemah berhadapan dengan daya tarik wajah dan suaranya Ilahi, berilah padaku cawan kesejukan untuk meletakkan embun-embun cinta yang menetes-netes dalam dinding hatiku ini. Ilahi, tuntunlah langkahku pada garis takdir yang paling Engkau ridhai. Aku serahkan hidup matiku untuk-Mu.” Isak Zahid mengharu biru pada Tuhan Sang Pencipta hati, cinta, dan segala keindahan semesta. 

Zahid terus meratap dan mengiba. Hatinya yang dipenuhi gelora cinta terus ia paksa untuk menepis noda-noda nafsu. Anehnya, semakin ia meratap embun-embun cinta itu semakin deras mengalir. Rasa cintanya pada Tuhan. Rasa takut akan azab-Nya. Rasa cinta dan rindu-Nya pada Afirah. Dan rasa tidak ingin kehilangannya. Semua bercampur dan mengalir sedemikian hebat dalam relung hatinya. Dalam puncak munajatnya ia pingsan. 

Menjelang subuh, ia terbangun. Ia tersentak kaget. Ia belum shalat Tahajjud. Beberapa orang tampak tengah asyik beribadah bercengkerama dengan Tuhannya. Ia menangis, ia menyesal. Biasanya ia sudah membaca dua juz dalam shalatnya. 

“Ilahi, jangan kau gantikan bidadariku di surga dengan bidadari dunia. Ilahi, hamba lemah maka berilah kekuatan!” 

Ia lalu bangkit, wudhu, dan shalat tahajjud. Di dalam sujudnya ia berdoa, 

“Ilahi, hamba mohon ridha-Mu dan surga. Amin. Ilahi lindungi hamba dari murkamu dan neraka. Amin. Ilahi, jika boleh hamba titipkan rasa cinta hamba pada Afirah pada-Mu, hamba terlalu lemah untuk menanggung-Nya. Amin. Ilahi, hamba memohon ampunan-Mu, rahmat-Mu, cinta-Mu, dan ridha-Mu. Amin.” 


Pagi hari, usai shalat dhuha Zahid berjalan ke arah pinggir kota. Tujuannya jelas yaitu melamar Afirah. Hatinya mantap untuk melamarnya. Di sana ia disambut dengan baik oleh kedua orangtua Afirah. Mereka sangat senang dengan kunjungan Zahid yang sudah terkenal ketakwaannya di seantero penjuru kota. Afiah keluar sekejab untuk membawa minuman lalu kembali ke dalam. Dari balik tirai ia mendengarkan dengan seksama pembicaraan Zahid dengan ayahnya. Zahid mengutarakan maksud kedatangannya, yaitu melamar Afirah. 

Sang ayah diam sesaat. Ia mengambil nafas panjang. Sementara Afirah menanti dengan seksama jawaban ayahnya. Keheningan mencekam sesaat lamanya. Zahid menundukkan kepala ia pasrah dengan jawaban yang akan diterimanya. Lalu terdengarlah jawaban ayah Afirah, 

“Anakku Zahid, kau datang terlambat. Maafkan aku, Afirah sudah dilamar Abu Yasir untuk putranya Yasir beberapa hari yang lalu, dan aku telah menerimanya.” 

Zahid hanya mampu menganggukan kepala. Ia sudah mengerti dengan baik apa yang didengarnya. Ia tidak bisa menyembunyikan irisan kepedihan hatinya. Ia mohon diri dengan mata berkaca-kaca. Sementara Afirah, lebih tragis keadaannya. Jantungnya nyaris pecah mendengarnya. Kedua kakinya seperti lumpuh seketika. Ia pun pingsan saat itu juga. 


Zahid kembali ke masjid dengan kesedihan tak terkira. Keimanan dan ketakwaan Zahid ternyata tidak mampu mengusir rasa cintanya pada Afirah. Apa yang ia dengar dari ayah Afirah membuat nestapa jiwanya. Ia pun jatuh sakit. Suhu badannya sangat panas. Berkali-kali ia pingsan. Ketika keadaannya kritis seorang jamaah membawa dan merawatnya di rumahnya. Ia sering mengigau. Dari bibirnya terucap kalimat tasbih, tahlil, istigfhar dan … Afirah. 

Kabar tentang derita yang dialami Zahid ini tersebar ke seantero kota Kufah. Angin pun meniupkan kabar ini ke telinga Afirah. Rasa cinta Afirah yang tak kalah besarnya membuatnya menulis sebuah surat pendek,
 
 
   Kepada Zahid,
  Assalamu’alaikum. Aku telah mendengar betapa dalam rasa cintamu padaku. Rasa cinta itulah yang membuatmu sakit dan menderita saat ini. Aku tahu kau selalu menyebut diriku dalam mimpi dan sadarmu. Tak bisa kuingkari, aku pun mengalami hal yang sama. Kaulah cintaku yang pertama. Dan kuingin kaulah pendamping hidupku selama-lamanya. Zahid, Kalau kau mau. Aku tawarkan dua hal padamu untuk mengobati rasa haus kita berdua. Pertama, aku akan datang ke tempatmu dan kita bisa memadu cinta. Atau kau datanglah ke kamarku, akan aku tunjukkan jalan dan waktunya. 
   Wassalam, Afirah. 

 
Surat itu ia titipkan pada seorang pembantu setianya yang bisa dipercaya. Ia berpesan agar surat itu langsung sampai ke tangan Zahid. Tidak boleh ada orang ketiga yang membacanya. Dan meminta jawaban Zahid saat itu juga. 

Hari itu juga surat Afirah sampai ke tangan Zahid. Dengan hati berbunga-bunga Zahid menerima surat itu dan membacanya. Setelah tahu isinya seluruh tubuhnya bergetar hebat. Ia menarik nafas panjang dan beristighfar sebanyak-banyaknya. Dengan berlinang air mata ia menulis untuk Afirah :     
 
 
   Kepada Afirah,   
   Salamullahi’alaiki, benar aku sangat mencintaimu. Namun sakit dan deritaku ini tidaklah semata- mata karena rasa cintaku padamu. Sakitku ini karena aku menginginkan sebuah cinta suci yang mendatangkan pahala dan diridhai Allah ‘Azza Wa Jalla’. Inilah yang kudamba. Dan aku ingin mendamba yang sama. Bukan sebuah cinta yang menyeret kepada kenistaan dosa dan murka-Nya. Afirah, Kedua tawaranmu itu tak ada yang kuterima. Aku ingin mengobati kehausan jiwa ini dengan secangkir air cinta dari surga. Bukan air timah dari neraka. 
   Afirah, “Inni akhaafu in ‘ashaitu Rabbi adzaaba yaumin ‘adhim!” ( Sesungguhnya aku takut akan siksa hari yang besar jika aku durhaka pada Rabb-ku. Az Zumar : 13 ) Afirah, Jika kita terus bertakwa. Allah akan memberikan jalan keluar. Tak ada yang bisa aku lakukan saat ini kecuali menangis pada-Nya. Tidak mudah meraih cinta berbuah pahala. Namun aku sangat yakin dengan firmannya : “Wanita-wanita yang tidak baik adalah untuk laki-laki yang tidak baik, dan laki- laki yang tidak baik adalah buat wanita-wanita yang tidak baik (pula), dan wanita- wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka. Bagi mereka ampunan dan rizki yang mulia (yaitu surga).” Karena aku ingin mendapatkan seorang bidadari yang suci dan baik maka aku akan berusaha kesucian dan kebaikan. Selanjutnya Allahlah yang menentukan. Afirah, Bersama surat ini aku sertakan sorbanku, semoga bisa jadi pelipur lara dan rindumu. Hanya kepada Allah kita serahkan hidup dan mati kita.   
   Wassalam, Zahid.
 
 
Begitu membaca jawaban Zahid itu Afirah menangis. Ia menangis bukan karena kecewa tapi menangis karena menemukan sesuatu yang sangat berharga, yaitu hidayah. Pertemuan dan percintaannya dengan seorang pemuda saleh bernama Zahid itu telah mengubah jalan hidupnya. 

Sejak itu ia menanggalkan semua gaya hidupnya yang glamor. Ia berpaling dari dunia dan menghadapkan wajahnya sepenuhnya untuk akhirat. Sorban putih pemberian Zahid ia jadikan sajadah, tempat dimana ia bersujud, dan menangis di tengah malam memohon ampunan dan rahmat Allah SWT. Siang ia puasa malam ia habiskan dengan bermunajat pada Tuhannya. Di atas sajadah putih ia menemukan cinta yang lebih agung dan lebih indah, yaitu cinta kepada Allah SWT. Hal yang sama juga dilakukan Zahid di masjid Kufah. Keduanya benar-benar larut dalam samudera cinta kepada Allah SWT. 

Allah Maha Rahman dan Rahim. Beberapa bulan kemudian Zahid menerima sepucuk surat dari Afirah :
 
  
   Kepada Zahid,   
   Assalamu’alaikum, segala puji bagi Allah, Dialah Tuhan yang memberi jalan keluar hamba-Nya yang bertakwa. Hari ini ayahku memutuskan tali pertunanganku dengan Yasir. Beliau telah terbuka hatinya. Cepatlah kau datang melamarku. Dan kita laksanakan pernikahan mengikuti sunnah Rasululullah SAW. Secepatnya. 
   Wassalam, Afirah
  

Seketika itu Zahid sujud syukur di mihrab masjid Kufah. Bunga-bunga cinta bermekaran dalam hatinya. Tiada henti bibirnya mengucapkan hamdalah.

Kisah Bar'ah

Ini adalah kisah gadis berumur 10 tahun bernama Bar"ah, yang orangtuanya dokter dan telah pindah ke Arab Saudi untuk mencari kehidupan yang lebih baik. 

Pada usia ini, Bar'ah telah menghafal seluruh Al Qur’an dengan tajwidnya, dia sangat cerdas. Keluarga kecilnya berkomitmen untuk Islam dan ajaran-ajarannya. Hingga suatu hari ibunya mulai merasa sakit perut yang parah dan setelah beberapa kali diperiksakan diketahuilah ibu Bar’ah menderita kanker, dan kanker ini sudah dalam keadaan stadium akhir. 

Ibu bar’ah berfikir untuk memberitahu putrinya, terutama jika ia terbangun suatu hari dan tidak menemukan ibunya di sampingnya. Dan inilah ucapan ibu Bar’ah kepadanya,

“Bar'ah, aku akan pergi ke surga, tapi aku ingin kamu selalu membaca al-Qur'an dan menghafalkannya setiap hari karena Ia akan menjadi pelindungmu kelak.“ 

Gadis kecil itu tidak benar-benar mengerti apa yang ibunya berusaha beritahukan. Tapi dia mulai merasakan perubahan keadaan ibunya, terutama ketika ia mulai dipindahkan ke rumah sakit untuk waktu yang lama. Gadis kecil ini menggunakan waktu sepulang sekolahnya untuk menjenguk ibunya ke rumah sakit dan membaca al-Qur'an untuk ibunya sampai malam sampai ayahnya datang dan membawanya pulang. Suatu hari pihak rumah sakit memberitahu ayah Bar’ah melalui telepon bahwa kondisi istrinya itu sangat buruk dan ia perlu datang secepat dia bisa, sehingga ayah Bar’ah menjemput Bar'ah dari sekolah dan menuju ke rumah sakit. Ketika mereka tiba di depan rumah sakit ia memintanya untuk tinggal di mobil, sehingga ia tidak akan shock jika ibunya meninggal dunia. 

Ayah keluar dari mobilnya, dengan penuh air mata di matanya, ia menyeberang jalan untuk masuk rumah sakit, tapi tiba-tiba datang sebuah mobil melaju kencang dan menabrak ayah Bar’ah dan ia meninggal seketika di depan putrinya itu, tak terbayangkan
tangis gadis kecil ini pada saat itu.

Tragedi Bar'ah belum selesai sampai di sini, berita kematian ayahnya yang disembunyikan dari ibu Bar’ah yang masih opname di rumah sakit, namun setelah lima hari semenjak kematian suaminya akhirnya ibu Bar’ah meninggal dunia juga. Dan kini gadis kecil ini sendirian tanpa kedua orangtuanya, dan oleh orangtua teman-teman sekolah Bar’ah memutuskan untuk mencarikan kerabatnya di Mesir, sehingga kerabatnya bisa merawatnya. 

Tak berapa lama tinggal di Mesir gadis kecil Bar'ah mulai mengalami nyeri mirip dengan ibunya dan oleh keluarganya ia lalu diperiksakan, dan setelah beberapa kali tes di dapati Bar’ah juga mengidap kanker. Tapi sungguh mencengangkan kala ia di beritahu kalau ia menderita kanker, inilah perkataan Bar’ah kala itu, 

“Alhamdulillah, sekarang saya akan bertemu dengan kedua orang tua saya.”  

Semua teman-teman dan keluarga terkejut. Gadis kecil ini sedang menghadapi musibah yang bertubi-tubi dan dia tetap sabar dan ikhlas dengan apa yang ditetapkan Allah untuknya. Subhanallah.

Orang-orang mulai mendengar tentang Bar `ah dan ceritanya, dan Saudi memutuskan untuk mengurusnya, ia mengirimnya ke Inggris untuk pengobatan penyakit ini. 

Salah satu saluran TV Islam (Al Hafiz – The pelindung) mendapat kontak dengan gadis kecil ini dan memintanya untuk membaca Quran. Dan ini adalah link suara yang indah yang di lantunkan oleh Bar’ah.

Mereka menghubungi lagi Bar’ah sebelum ia pergi ke Coma dan dia berdoa untuk kedua orangtuanya dan menyanyikan Nasheed.

Hari-hari terlewati dan kanker mulai menyebar di seluruh tubuhnya, para dokter memutuskan untuk mengamputasi kakinya, dan ia telah bersabar dengan apa yang ditetapkan Allah baginya. Tapi beberapa hari setelah operasi amputasi kakinya kanker sekarang menyebar ke otaknya, lalu oleh dokter memutuskan untuk melakukan operasi otak. Dan sekarang bar’ah berada di sebuah rumah sakit di Inggris menjalani perawatan
Silakan berdoa untuk Bar’ah, dan bagi saudara-saudara kita di seluruh dunia.

Belum Haji Sudah Mabrur

Ini kisah tentang Yu Timah. Siapakah dia? Yu Timah adalah tetangga kami. Dia salah seorang penerima program Subsidi Langsung Tunai (SLT) yang kini sudah berakhir. Yu Timah adalah penerima SLT yang sebenarnya. Maka rumahnya berlantai tanah, berdinding anyaman bambu, tak punya sumur sendiri. Bahkan status tanah yang di tempati gubuk Yu Timah adalah bukan milik sendiri. 

Usia Yu Timah sekitar lima puluhan, berbadan kurus dan tidak menikah. Dia sebatang kara. Dulu setelah remaja Yu Timah bekerja sebagai pembantu rumah tangga di Jakarta. Namun, seiring usianya yang terus meningkat, tenaga Yu Timah tidak laku di pasaran pembantu rumah tangga. Dia kembali ke kampung kami. Para tetangga bergotong royong membuatkan gubuk buat Yu Timah bersama emaknya yang sudah sangat renta. Gubuk itu didirikan di atas tanah tetangga yang bersedia menampung anak dan emak yang sangat miskin itu. 

Meski hidupnya sangat miskin, Yu Timah ingin mandiri. Maka ia berjualan nasi bungkus. Pembeli tetapnya adalah para santri yang sedang mondok di pesantren kampung kami. Tentu hasilnya tak seberapa. Tapi Yu Timah bertahan. Dan nyatanya dia bisa hidup bertahun-tahun. 

Kemarin Yu Timah datang ke rumah saya. Saya sudah mengira pasti dia mau bicara soal tabungan. Inilah hebatnya. Semiskin itu Yu Timah masih bisa menabung di bank perkreditan rakyat syariah di mana saya ikut jadi pengurus. Tapi Yu Timah tidak pernah mau datang ke kantor. Katanya, malu sebab dia orang miskin dan buta huruf. Dia menabung Rp5.000 atau Rp10 ribu setiap bulan. Namun setelah menjadi penerima SLT Yu Timah bisa setor tabungan hingga Rp 250 ribu. Dan Saldo terakhir Yu Timah adalah Rp 650 ribu. 

Yu Timah biasa duduk menjauh bila berhadapan dengan saya. Malah maunya bersimpuh di lantai, namun selalu saya cegah. 

”Pak, saya mau mengambil tabungan,” kata Yu Timah dengan suaranya yang kecil. 

”O, tentu bisa. Tapi ini hari Sabtu dan sudah sore. Bank kita sudah tutup. Bagaimana bila Senin?” 

”Senin juga tidak apa-apa. Saya tidak buru-buru.” 

”Mau ambil berapa?” tanya saya. 

”Enam ratus ribu, Pak.” 

”Kok banyak sekali. Untuk apa, Yu?” 

Yu Timah tidak segera menjawab. Menunduk, sambil tersenyum malu-malu. ”Saya mau beli kambing kurban, Pak. Kalau enam ratus ribu saya tambahi dengan uang saya yang di tangan, cukup untuk beli satu kambing.” 


Saya tahu Yu Timah amat menunggu tanggapan saya. Bahkan dia mengulangi kata-katanya karena saya masih diam. Karena lama tidak memberikan tanggapan, mungkin Yu Timah mengira saya tidak akan memberikan uang tabungannya. Padahal saya lama terdiam karena sangat terkesan oleh keinginan Yu Timah membeli kambing kurban. 

”Iya, Yu. Senin besok uang Yu Timah akan diberikan sebesar enam ratus ribu. Tapi Yu, sebenarnya kamu tidak wajib berkurban. Yu Timah bahkan wajib menerima kurban dari saudara-saudara kita yang lebih berada. Jadi, apakah niat Yu Timah benar-benar sudah bulat hendak membeli kambing kurban?” 

”Iya Pak. Saya sudah bulat. Saya benar-benar ingin berkurban. Selama ini memang saya hanya jadi penerima. Namun sekarang saya ingin jadi pemberi daging kurban.” 

”Baik, Yu. Besok uang kamu akan saya ambilkan di bank kita.” 

Wajah Yu Timah benderang. Senyumnya ceria. Matanya berbinar. Lalu minta diri, dan dengan langkah-langkah panjang Yu Timah pulang. Setelah Yu Timah pergi, saya termangu sendiri. Kapankah Yu Timah mendengar, mengerti, menghayati, lalu menginternalisasi ajaran kurban yang ditinggalkan oleh Kanjeng Nabi Ibrahim? Mengapa orang yang sangat awam itu bisa punya keikhlasan demikian tinggi sehingga rela mengurbankan hampir seluruh hartanya? Pertanyaan ini muncul karena umumnya ibadah haji yang biayanya mahal itu tidak mengubah watak orangnya. Mungkin saya juga begitu. 

Ah, Yu Timah, saya jadi malu. Kamu yang belum naik haji, atau tidak akan pernah naik haji, namun kamu sudah jadi orang yang suka berkurban. Kamu sangat miskin, tapi uangmu tidak kau belikan makanan, televisi, atau pakaian yang bagus. Uangmu malah kamu belikan kambing kurban. Ya, Yu Timah. Meski saya dilarang dokter makan daging kambing, tapi kali ini akan saya langgar. Saya ingin menikmati daging kambingmu yang sepertinya sudah berbau surga. Mudah-mudahan kamu mabrur sebelum kamu naik haji. 

Kisah Pembawa Ember dan Manusia Pipa

Disuatu Lembah Italia, zaman dahulu kala sekitar tahun 1801 ada 2 orang sahabat yang tinggal dilembah itu, yang pertama bernama Pablo dan yang kedua bernama Bruno. Kedua anak muda itu merupakan orang-orang yang berkualitas, mempunyai semangat dan ambisi yang kuat untuk menggapai tujuannya, serta memiliki cita-cita yang tinggi.  

Mereka berdua pun berkhayal, berharap suatu hari nanti mereka akan menjadi orang yang paling kaya didesa itu. Mereka berdua sama-sama cemerlang dan sangat tekun dalam bekerja, yang mereka perlu hanyalah kesempatan mewujudkan impian itu. Seperti kata pepatah "KESIAPAN haruslah bertemu dengan KESEMPATAN". Saat ini yang mereka tunggu adalah kesempatan emas agar apa yang diinginkan dan dicita-citakan segera terwujud.  

Pada suatu hari kesempatan emas yang mereka tunggu selama ini akhirnya datang, kepala desa memberi pekerjaan kepada mereka untuk mengangkut air dari danau ke desanya untuk memenuhi kebutuhan air warga desanya. Setiap ember yang terisi penuh, mereka akan menerima bayaran 1 sen. Jadi, kalau satu hari bisa mengangkut 20 ember maka mereka akan memperoleh penghasilan 20 sen. 

Tanpa menunggu perintah selanjutnya, keduanya langsung membawa 2 buah ember dan segera menuju danau. Sepanjang siang keduanya mengangkut air dengan menggunakan ember. Menjelang sore, tempat penampungan air sudah penuh sampai kepermukaan dan kepala desa pun menggaji kedua pemuda tersebut berdasarkan jumlah ember yang mereka bawa. 

"Wow, apa yang aku cita-citakan selama ini akan segera terwujud!" teriak Bruno gembira. "Rasanya sulit dipercaya, kita mendapatkan penghasilan sebanyak ini".  

Namun Pablo tidak demikian, dia tidak begitu yakin kalo pekerjaannya yakni mengangkat ember dari danau ke desa akan membuatnya cepat kaya. 

Setibanya dirumah Pablo merasakan punggungnya nyeri dan kedua telapak tangannya lecet-lecet, dan itu semua disebabkan karena sepanjang hari tadi Pablo membawa 2 ember berat berisi air penuh yang dibawanya bolak balik dari sungai ke desa. Begitu pagi tiba, perasaan Pablo mulai kecut karena harus berangkat kerja, dia tidak ingin punggung dan tangannya bermasalah lagi. Lalu Pablo mulai berpikir keras bagaimana caranya memindahkan air dari danau ke desanya tanpa harus terluka, tanpa harus menanggung rasa nyeri dipunggung, tanpa harus melakukan pekerjaan itu seumur hidupnya.  

Keesokan harinya setelah semalam tidak bisa tidur memikirkan jalan keluar dari pekerjaan mereka berkatalah Pablo kepada Bruno. "Bruno, aku punya rencana, dari pada kita mondar-mandir setiap hari membawa ember dari danau ke desa dan hanya mendapatkan beberapa sen per-hari, mengapa tidak sekalian saja kita membangun saluran pipa air dari danau ke desa kita?" 

Mendengar temannya punya ide aneh tersebut, Bruno tersentak, "Saluran pipa? Ide dari mana itu? Kita kan sudah mempunyai pekerjaan yang bagus dan menghasilkan uang. Pablo, Aku bisa membawa 100 ember dalam sehari itu berarti penghasilan yang akan aku dapatkan bisa 100 sen per-hari! Aku akan menjadi orang kaya, bisa hidup senang!" jawab Bruno. 

"Dan pada akhir minggu saya bisa membeli sepatu baru, pada akhir bulan saya bisa membeli seekor sapi, dan pada akhir tahun saya sudah mampu untuk membangun rumah. Kamu melihat, tidak ada pekerjaan semenguntungkan seperti mengangkut air di desa ini. Lagipula, pada setiap akhir minggu kita mendapat libur. Dan setiap akhir tahun kita juga mendapat hak cuti 2 minggu. Jadi buang jauh-jauh idemu untuk membangun pipa airmu itu." 

Tapi Pablo tidak putus asa. Dia tetap bersikukuh pada idenya itu, dengan sabar dia menerangkan bagaimana proses membangun pipa saluran air kepada sahabatnya. Namun Bruno tidak tertarik sedikitpun tawaran dari Pablo.  Akhirnya, Pablo memutuskan untuk menjalankan idenya itu sendiri. Dia bekerja untuk paruh waktu saja, setengah hari dia mengangkut ember untuk mendapatkan penghasilan dan bisa membiayai hidupnya sehari-hari lalu sisa waktunya ditambah hari libur di akhir minggunya dia pakai untuk membangun saluran pipanya itu.  

Sejak awal melakukan pekerjaan ini, Pablo menyadari bahwa akan sulit membangun saluran pipa itu ke desanya. Menggali tanah keras yang banyak batu kerikil dan kostur tanah yang naik turun sangatlah jelas tak kalah menyakitkan dengan luka lecet dan punggung nyeri karena mengangkut air. Pablo pun juga menyadari bahwa upah yang dia terima sekarang ini berdasarkan jumlah ember yang diangkutnya, maka jelas secara otomatis penghasilannya akan menurun. Dan Dia juga sangat paham sekali bahwa untuk menghasilkan saluran pipa air ke desanya membutuhkan waktu 1 sampai 2 tahun agar pipanya dapat berfungsi seperti yang diharapkan.  

Namun Pablo tak pernah kendur dengan keyakinannya itu, dia tahu persis akan impian dan cita-citanya. Sebab itu dia terus bekerja tanpa kenal lelah. Melihat apa yang dilakukan Pablo, orang-orang desa dan Bruno mulai mengejek Pablo. Mereka menyebutnya "Pablo si Manusia Pipa".  

Bruno yang punya penghasilan dua kali lipat dibandingkan Pablo, hampir setiap saat membangga-banggakan barang baru yang berhasil dibelinya. Dia juga selalu mengatakan Pablo bodoh, karena telah meninggalkan pekerjaan yang jelas-jelas menghasilkan banyak uang itu.   

Bruno juga telah berhasil membeli seekor sapi, dia juga sering terlihat untuk makan diwarung-warung sehingga orang desa pun memanggilnya Mr.Bruno! Mereka selalu menyambutnya kemanapun ia pergi, Bruno pun tak segan-segan mentraktir para penyambutnya ini dengan minum-minum di Bar.   

Kini, pemandangan kontras mulai nampak diantara kedua sahabat itu. Sementara Bruno asyik berbaring santai. Pada akhir minggu, Pablo terus menggali saluran pipanya sampai berkeringat dan terlihat lelah. Namun Pablo tetap terus melakukan idenya itu untuk membuat saluaran pipa air.   

Pada bulan-bulan awal, Pablo memang belum menunjukkan hasil apapun dari usahanya. Tampak betul bahwa pekerjaannya sangatlah berat, bahkan jauh lebih berat dari pekerjaan yang dilakukan Bruno. Selain harus tetap bekerja diakhir minggu, Pablo juga bekerja dimalam hari. Tapi Pablo selalu mengingatkan pada dirinya sendiri bahwa cita-cita masa depan itu sesungguhnya dibangun berdasarkan pada perjuangannya yang dilakukan hari ini.  

Dia selalu bersenandung setiap mengayunkan cangkulnya ketanah yang mengandung batu karang. Dari satu centimeter menjadi dua centimeter, sepuluh centimeter, satu meter, dua puluh meter, seratur meter dan seterusnya...   

Hari berganti bulan dan berganti tahun kerja keras pablo sudah mulai terlihat. Ibarat pepatah, bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian. Kata-kata itulah yang ditanamkan dalam dirinya setelah dia kembali ke gubuknya yang sederhana sepulang dari kerja. Tubuhnya amat lelah setelah seharian menggali saluran pipa, dia sudah memperkirakan keberhasilan yang bakal dicapainya.   

Pablo sangat yakin bahwa kerja kerasnya ini akan menghasilkan kekayaan yang jauh lebih besar daripada tenaga dan waktu yang sudah dia keluarkan saat ini. Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, bulan berganti tahun. Dan saat- saat penyelesaian saluran pipa air pun semakin dekat dan nyata. Disisi lain setiap Pablo beristirahat sejenak dari pekerjaannya, dia melihat sahabatnya Bruno yang terus saja mengangkat ember-ember. Bahu Bruno juga sudah terlihat semakin lama semakin bungkuk, tampak jelas sekali kesakitan dan kelelahan dalam tubuhnya, walaupun Bruno berusaha untuk menutupinya. Langkahnya juga semakin lama semakin lambat karena harus bekerja keras mengangkat air dengan ember setiap hari. Bruno merasa sedih dan kecewa karena merasa "ditakdirkan" untuk terus-menerus mengangkut ember setiap hari sepanjang hidupnya.   

Akhirnya saat yang ditunggu-tunggu Pablo tiba, saluran pipa yang dibangun bertahun-tahun sudah selesai dan siap mengalirkan air dari sungai ke desanya. Sekarang desa itu sudah mendapatkan pasokan air bersih dengan lancar.  Bahkan penduduk desa yang sebelumnya tinggal agak jauh dari tempat itu kemudian pindah mencari tempat
yang lebih dekat dengan sumber air itu. Air itu mengalir baik dia sedang bekerja maupun tidak, bahkan saat dia makan, tidur, ataupun bermain-main. Airpun tetap mengalir diakhir minggu ketika dia sedang menikmati banyak permainan, semakin banyak air yang mengalir ke desa maka semakin banyak pula uang yang akan mengalir dikantong Pablo.   
Pablo yang tadinya terkenal denga julukan Pablo si Manusia Pipa, kini menjadi lebih terkenal dengan sebutan Pablo si Manusia Ajaib.  

Saluran pipa yang dibuat Pablo ternyata membuat Bruno kehilangan pekerjaannya. Orang di desa tidak lagi membeli air dari Bruno, mendengar keadaan tersebut Pablo sangat prihatin dengan nasib sahabatnya dan berniat ingin membantu Bruno, namun Bruno sudah sulit merubah pandangan hidupnya. Bagi Bruno, mencari uang berarti memikul ember. 

Sejak kecil sewaktu masih sekolah dia sudah diajarkan cara mencari uang dengan mengangkut ember, akibatnya cara alternatif memindahkan air dengan membangun saluran pipa tidak pernah ada dalam pikirannya.  

Lantas pertanyaan saya, siapakah anda? Pablo atau Bruno?Seorang pembawa ember? Ataukah seorang pembangun saluran pipa? Apakah anda hanya mendapatkan uang, upah, gaji atau apapun namanya hanya dengan datang ke tempat kerja dan bekerja seperti yang dilakukan Bruno si Pengangkut ember ? Ataukah merencanakan rencana yang lebih besar yang bisa menjamin masa depan anda jauh lebih baik lagi seperti yang dilakukan oleh Pablo si manusia Pipa?

Hukum Truk Sampah

Suatu hari saya melompat ke dalam taksi dan kami berangkat menuju bandara. Kami berkendara di jalur kiri ketika tiba-tiba sebuah mobil hitam memotong jalur kami dari tempat parkir tepat di depan kami.

Sopir taksi saya menginjak rem, tergelincir, dan menabrak mobil lain dengan hanya beberapa senti!


Pengemudi mobil hitam itu marah dan mulai berteriak memaki kami!


Sopir taksi saya hanya tersenyum dan melambaikan tangan pada orang itu. Dan maksudku, bagaimana bisa dia seramah itu. Jadi aku bertanya, 


"Mengapa Anda melakukan itu? Orang ini hampir menghancurkan mobil Anda dan membuat kita masuk rumah sakit!"

Ini terjadi ketika sopir taksi yang saya tumpangi mengajarkan saya apa yang sekarang saya sebut dengan 'Hukum Truk Sampah'."


Ia menjelaskan bahwa banyak orang seperti truk sampah. Mereka berlari-lari membawa penuh sampah (frustrasi, kemarahan, dan kekecewaan, dll). Karena sampah mereka yang menumpuk, mereka perlu tempat untuk membuangnya dan kadang-kadang mereka akan membuangnya pada Anda.


Jangan tersinggung. Tersenyumlah, berharap mereka mendapatkan yang terbaik, dan terus maju. Jangan mengambil sampah mereka dan menyebar ke orang lain di tempat kerja, di rumah, atau di jalan-jalan.


Intinya adalah bahwa orang-orang sukses tidak membiarkan truk sampah mengambil alih hari-hari mereka. Hidup terlalu singkat untuk bangun di pagi hari dengan penyesalan, jadi sayangilah orang-orang yang memperlakukan Anda dengan baik dan berdoalah untuk orang-orang yang
memperlakukan Anda dengan kurang baik. Hidup adalah sepuluh persen bagaimana Anda membuatnya dan sembilan puluh persen bagaimana Anda menerimanya!

Semoga hari-hari Anda menyenangkan dengan hidup bebas-sampah.

Kisah Sharon Fleischer, Bagaimana Perang Dimulai?

Itu adalah hari pertamaku di sekolah. Saya merasa gugup dan takut. Aku pergi kemanapun tanpa teman. Rasanya seperti tak ada yang peduli.

Aku mengikuti semua pelajaran dengan cemas dan menunggu istirahat dalam
satu waktu. Lalu akhirnya bel berbunyi. Sudah waktunya untuk ngobrol dan bersenang-senang.

Di kantin saya bertemu dengan seorang teman baru yang mengenakan jilbab di kepalanya, dan meskipun saya Yahudi, kami bergaul dengan baik, dan aku sangat lega ketika dia berkata, 


"Duduklah dengan kami, di meja kami", dia menunjuk ke salah satu bangku di samping pintu.

Jadi aku setuju, dan mengambil nampanku dan hendak berjalan dengan dia, ketika tiba-tiba aku merasakan
sebuah dorongan. 

"Hei, aku melihatmu di bus", kata seorang gadis jangkung rok panjang. "Aku melihat kalung bintang Yahudi punyamu. Kamu harus duduk dengan kami."

Pada saat itu aku melihat sekeliling, dan saat itulah aku melihat, aku terkejut, negara-negara di dunia, mengisolasi diri .Itulah apa yang kulihat dengan mataku sendiri.


Anak Spanyol hanya duduk dengan gerombolan anak Spanyol, Hindu hanya dengan Hindu , Rusia selalu dengan Rusia, dan tidak pernah orang Arab dengan Yahudi.


Aku melihat alasan bagaimana perang dimulai. Semua orang menempel dengan jenis mereka sendiri. Ruang makan adalah peta dunia. Mengapa semua orang begitu buta?


Dan jadi aku menolak gadis jangkung ini, dan pergi dengan gadis Arab, dan tidak ada permusuhan. Aku membangun sebuah jembatan antara dua dunia ketika aku duduk dengan mereka yang berbeda dariku. Kuharap, Anda akan melakukan hal yang sama.


Sharon menulis catatan ini saat dia berumur 16 tahun saat kelas 11. Tujuannya adalah menjadi diplomat internasional dan menjadi peace-maker.

Pekerjaan Dokter

Seorang dokter dengan cepat masuk rumah sakit setelah dipanggil untuk sebuah operasi mendesak, seorang anak yang mengalami kecelakaan serius. Dia mengubah pakaiannya dan langsung pergi menuju ke blok operasi. Dia melihat ayah anak itu berjalan mondar-mandir di depan ruang operasi menunggu dokter.

Setelah melihat dokter, sang ayah berteriak, 


"Mengapa Anda lama sekali untuk datang? Tidak tahukah Anda, bahwa kehidupan anak saya dalam bahaya? Apakah Anda tidak memiliki rasa tanggung jawab?"

Dokter itu tersenyum dan berkata, 


"Saya minta maaf, saya tidak di rumah sakit dan saya datang secepat saya bisa. Sekarang, saya ingin Anda tenang sehingga saya bisa melakukan pekerjaan saya."

"Tenang? Bagaimana jika anak Anda berada di ruangan ini sekarang, Anda akan tenang ? Jika anak Anda sendiri meninggal sekarang apa yang akan Anda lakukan?", kata sang ayah marah.


Dokter itu tersenyum lagi dan menjawab, 


"Saya akan mengatakan apa yang dianjurkan dalan al-Qur'an  'Inna lillahi wa inna ilaihin raaji'uun'. Seorang dokter tidak dapat memperpanjang hidup. Duduk dan berdoalah untuk keselamatan anak Anda, kami akan melakukan yang terbaik, insyaallah."

"Memberikan nasihat ketika kau tak peduli sangat mudah" gumam sang ayah.


Operasi berlangsung beberapa jam, setelah itu dokter keluar dengan raut bahagia, 


"Alhamdulillah! Anakmu selamat!"

Sang ayah segera menghampiri dokter untuk bertanya bagaimana keadaan anaknya. Namun sang dokter buru-buru dan berkata,


"Jika Anda memiliki pertanyaan, tanyakanlah kepada perawat", dokter itu berlari menjauh dan pulang.

"Mengapa dia begitu sombong? Dia tidak bisa menunggu beberapa menit saya sampai saya bertanya tentang keadaan anak saya?", komentar ayah ketika melihat perawat setelah beberapa menit dokter pergi.


Perawat menjawab, 


"Anaknya meninggal kemarin dalam kecelakaan lalu lintas, ia berada di pemakaman ketika kita memanggilnya untuk operasi anak Anda."

Berbicara Dengan Bahasa al-Qur'an

Berkata Abdullah bin Mubarak Rahimahullahu Ta’ala:

Saya berangkat menunaikan Haji ke Baitullah Al-Haram, lalu berziarah ke makam Rasulullah salallahu ‘alayhi wasallam. Ketika saya berada disuatu sudut jalan, tiba-tiba saya melihat sesosok tubuh berpakaian yang dibuat dari bulu. Ia adalah seorang ibu yang sudah tua. Saya berhenti sejenak seraya mengucapkan salam untuknya. Terjadilah dialog dengannya beberapa saat. 


Dalam dialog tersebut wanita tua itu , setiap kali menjawab pertanyaan saya, dijawab dengan menggunakan ayat-ayat Al-Qur’an. Walaupun jawabannya tidak tepat sekali, akan tetapi cukup memuaskan, karena tidak terlepas dari konteks pertanyaan yang diajukan kepadanya. 


Abdullah: “Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakaatuh.”


Wanita tua: “Salaamun qoulan min robbi rohiim.” (QS. Yaasin : 58) (artinya : “Salam sebagai ucapan dari Tuhan Maha Kasih”) 

Abdullah: “Semoga Allah merahmati anda, mengapa anda berada di tempat ini?” 


Wanita tua: “Wa man yudhlilillahu fa la hadiyalahu.” (QS : Al-A’raf : 186 ) (“Barang siapa disesatkan Allah, maka tiada petunjuk baginya”) 

Dengan jawaban ini, maka tahulah saya, bahwa ia tersesat jalan. 


Abdullah: “Kemana anda hendak pergi?” 


Wanita tua: “Subhanalladzi asra bi ‘abdihi lailan minal masjidil haraami ilal masjidil aqsa.” (QS. Al-Isra’ : 1) (“Maha suci Allah yang telah menjalankan hambanya di waktu malam dari masjid haram ke masjid aqsa”) 

Dengan jawaban ini saya jadi mengerti bahwa ia sedang mengerjakan haji dan hendak menuju ke masjidil Aqsa. 


Abdullah: “Sudah berapa lama anda berada di sini?” 


Wanita tua: “Tsalatsa layaalin sawiyya” (QS. Maryam : 10) (“Selama tiga malam dalam keadaan sehat”) 

Abdullah: “Apa yang anda makan selama dalam perjalanan?” 


Wanita tua: “Huwa yut’imuni wa yasqiin.” (QS. As-syu’ara’ : 79) (“Dialah pemberi aku makan dan minum”) 

Abdullah: “Dengan apa anda melakukan wudhu?” 


Wanita tua: “Fa in lam tajidu maa-an fatayammamu sha’idan thoyyiban” (QS. Al-Maidah :6) (“Bila tidak ada air bertayamum dengan tanah yang bersih”)

Abdulah: “Saya mempunyai sedikit makanan, apakah anda mau menikmatinya?” 


Wanita tua: “Tsumma atimmus shiyaama ilallaiil.” (QS. Al-Baqarah : 187) (“Kemudian sempurnakanlah puasamu sampai malam”) 

Abdullah: “Sekarang bukan bulan Ramadhan, mengapa anda berpuasa?” 

Wanita tua: “Wa man tathawwa’a khairon fa innallaaha syaakirun ‘aliim.” (QS. Al- Baqarah:158) (“Barang siapa melakukan sunnah lebih baik”) 

Abdullah: “Bukankah diperbolehkan berbuka ketika musafir?” 


Wanita tua: “Wa an tashuumuu khoirun lakum in kuntum ta’lamuun.” (QS. Al-Baqarah : 184) (“Dan jika kamu puasa itu lebih utama, jika kamu mengetahui”) 

Abdullah: “Mengapa anda tidak menjawab sesuai dengan pertanyaan saya?” 


Wanita tua: “Maa yalfidhu min qoulin illa ladaihi roqiibun ‘atiid.” (QS. Qaf : 18) (“Tiada satu ucapan yang diucapkan, kecuali padanya ada Raqib Atid”) 

Abdullah: “Anda termasuk jenis manusia yang manakah, hingga bersikap seperti itu?” 


Wanita tua: “Wa la taqfu ma laisa bihi ilmun. Inna sam’a wal bashoro wal fuaada, kullu ulaaika kaana ‘anhu mas’ula.” (QS. Al-Isra’ : 36) (“Jangan kamu ikuti apa yang tidak kamu ketahui, karena pendengaran, penglihatan dan hati, semua akan dipertanggung jawabkan”) 

Abdullah: “Saya telah berbuat salah, maafkan saya.” 


Wanita tua: “Laa tastriiba ‘alaikumul yauum, yaghfirullahu lakum.” (QS.Yusuf : 92) (“Pada hari ini tidak ada cercaan untuk kamu, Allah telah mengampuni kamu”) 

Abdullah: “Bolehkah saya mengangkatmu untuk naik ke atas untaku ini untuk melanjutkan perjalanan, karena anda akan menjumpai kafilah yang di depan.” 


Wanita tua: “Wa maa taf’alu min khoirin ya’lamhullah.” (QS Al-Baqoroh : 197) (“Barang siapa mengerjakan suatu kebaikan, Allah mengetahuinya”) 

Lalu wanita tua ini berpaling dari untaku, sambil berkata: 


Wanita tua: “Qul lil mu’miniina yaghdudhu min abshoorihim.” (QS. An-Nur : 30) (“Katakanlah pada orang-orang mukminin tundukkan pandangan mereka”) 


Maka saya pun memejamkan pandangan saya, sambil mempersilahkan ia mengendarai untaku. Tetapi tiba-tiba terdengar sobekan pakaiannya, karena unta itu terlalu tinggi baginya. Wanita itu berucap lagi. 


Wanita tua: “Wa maa ashobakum min mushibatin fa bimaa kasabat aidiikum.” (QS. Asy- Syura’ 30) (“Apa saja yang menimpa kamu disebabkan perbuatanmu sendiri”) 


Abdullah: “Sabarlah sebentar, saya akan mengikatnya terlebih dahulu.” 


Wanita tua : “Fa fahhamnaaha sulaiman.” (QS. Anbiya’ 79) (“Maka kami telah memberi pemahaman pada nabi Sulaiman”) 

Selesai mengikat unta itu saya pun mempersilahkan wanita tua itu naik. 


Abdullah: “Silahkan naik sekarang.” 


Wanita tua : “Subhaanalladzi sakhkhoro lana hadza wa ma kunna lahu muqriniin, wa inna ila robbinaa munqolibuun.” (QS. Az-Zukhruf : 13-14) (“Maha suci Tuhan yang telah menundukkan semua ini pada kami sebelumnya tidak mampu menguasainya. Sesungguhnya kami akan kembali pada tuhan kami”) 

Saya pun segera memegang tali unta itu dan melarikannya dengan sangat kencang. Wanita tua itu berkata lagi. 


Wanita tua: “Waqshid fi masyika waghdud min shoutik” (QS. Lukman : 19) (“Sederhanakan jalanmu dan lunakkanlah suaramu”) 


Lalu jalannya unta itu saya perlambat, sambil mendendangkan beberapa syair, wanita tua itu berucap:


Wanita tua: “Faqraa-u maa tayassara minal qur’aan” (QS. Al- Muzammil : 20) (“Bacalah apa-apa yang mudah dari Al-Qur’an”) 


Abdullah : “Sungguh anda telah diberi kebaikan yang banyak.” 


Wanita tua : “Wa maa yadzdzakkaru illa uulul albaab.” (QS Al-Baqoroh : 269) (“Dan tidaklah mengingat Allah itu kecuali orang yang berilmu”) 

Dalam perjalanan itu saya bertanya kepadanya:


Abdullah: “Apakah anda mempunyai suami?” 


Wanita tua : “Laa tas-alu ‘an asy ya-a in tubda lakum tasu’kum” (QS. Al-Maidah : 101) (“Jangan kamu menanyakan sesuatu, jika itu akan menyusahkanmu”) 

Ketika berjumpa dengan kafilah di depan kami, saya bertanya kepadanya. 


Abdullah: “Adakah orang anda berada dalam kafilah itu?” 


Wanita tua: “Al-maalu wal banuuna zinatul hayatid dunya.” (QS. Al-Kahfi : 46) (“Adapun harta dan anak-anak adalah perhiasan hidup di dunia”) 

Baru saya mengerti bahwa ia juga mempunyai anak. 


Abdullah: “Bagaimana keadaan mereka dalam perjalanan ini?” 


Wanita tua: “Wa alaamatin wabin najmi hum yahtaduun” (QS. An-Nahl : 16) (“Dengan tanda bintang-bintang mereka mengetahui petunjuk”) 

Dari jawaban ini dapat saya fahami bahwa mereka datang mengerjakan ibadah haji mengikuti beberapa petunjuk. Kemudian bersama wanita tua ini saya menuju perkemahan. 


Abdullah: “Adakah orang yang akan kenal atau keluarga dalam kemah ini?” 


Wanita tua: “Wattakhodzallahu ibrohima khalilan” (QS. An-Nisa’ : 125) (“Kami jadikan ibrahim itu sebagai yang dikasihi”) “Wakallamahu musa takliima” (QS. An-Nisa’ : 146) (“Dan Allah berkata-kata kepada Musa”) “Ya yahya khudil kitaaba biquwwah” (QS. Maryam : 12) (“Wahai Yahya pelajarilah alkitab itu sungguh-sungguh”) 

Lalu saya memanggil nama-nama, ya Ibrahim, ya Musa, ya Yahya, maka keluarlah anak-anak muda yang bernama tersebut. Wajah mereka tampan dan ceria, seperti bulan yang baru muncul. Setelah tiga anak ini datang dan duduk dengan tenang maka berkatalah wanita itu.


Wanita tua: “Fab’atsu ahadaku bi warikikum hadzihi ilal madiinati falyandzur ayyuha azkaa tho’aaman fal ya’tikum bi rizkin minhu.” (QS. Al-Kahfi : 19) (“Maka suruhlah salah seorang dari kamu pergi ke kota dengan membawa uang perak ini, dan carilah makanan yang lebih baik agar ia membawa makanan itu untukmu”) 


Maka salah seorang dari tiga anak ini pergi untuk membeli makanan, lalu menghidangkan di hadapanku, lalu perempuan tua itu berkata: 


Wanita tua: “Kuluu wasyrobuu hanii’an bima aslaftum fil ayyamil kholiyah” (QS. Al- Haqqah : 24) (“Makan dan minumlah kamu dengan sedap, sebab amal-amal yang telah kamu kerjakan di hari-hari yang telah lalu”) 


Abdullah: “Makanlah kalian semuanya makanan ini. Aku belum akan memakannya sebelum kalian mengatakan padaku siapakah perempuan ini sebenarnya.” 


Ketiga anak muda ini secara serempak berkata: 


“Beliau adalah orang tua kami. Selama empat puluh tahun beliau hanya berbicara mempergunakan ayat-ayat Al-Qur’an, hanya karena khawatir salah bicara.” 


Maha suci zat yang maha kuasa terhadap sesuatu yang dikehendakinya. Akhirnya saya pun berucap: 


“Fadhluhu yu’tihi man yasyaa’ Wallaahu dzul fadhlil adhiim.” (QS. Al-Hadid : 21) (“Karunia Allah yang diberikan kepada orang yang dikehendakinya, Allah adalah pemberi karunia yang besar”)

Selasa, 24 Desember 2013

Kisah Perempuan Miskin, Sapi Tua, dan Gaza

Kisah nyata ini terjadi di salah sebuah daerah di Yaman. Kisah penderitaan dan kepahitan yang dilalui oleh penduduk Gaza tersebar ke seantero dunia. Semua orang marah, benci, dendam dan sedih. Dimana korban kebanyakan adalah anak-anak kecil tak berdosa yang menjadi korban muntahan peluru sehingga darah membasah bumi tanpa henti.

Tragedi dahsyat ini juga sampai juga ke telinga seorang perempuan tua yang hidup miskin di salah sebuah kampung di Yaman. Sama seperti orang lain, dia juga turut sedih dan pilu sehingga berurai air mata. Lantas suatu hari, dia berusaha sekuat upaya untuk mencoba membantu sekadar semampunya. Kebetulan, harta yang dia punya adalah seekor sapi tua, terlalu uzur, kurus dan sudah tidak bermaya.


Dengan semangat tinggi dan perasaan simpati amat sangat, dia berniat menyedekahkan sapinya itu kepada penduduk Gaza lalu berjalan kaki dari rumah pergi ke salah sebuah masjid di Yaman sambil memegang sapi tunggal kesayangannya itu.


Kebetulan hari itu Jumaat dan para jemaah sudah mengerumuni pekarangan masjid untuk melaksanakan ibadat tersebut.


Ketika itu, betapa ramai yang melihat dan memperhatikan perempuan tua nan miskin dengan sapinya yang berada di sisi luar masjid. Ada yang mengangguk, ada yang menggeleng kepala. Tak terkecuali ada juga yang tersenyum sinis, tertawa, mengejek melihat perempuan miskin yang setia berdiri di sisi sapinya.


Masa berlalu, jemaah masjid walaupun khusyuk mendengar khutbah imam namun sesekali memperhatikan dua mahkhluk tuhan itu. Perempuan dan sapi itu masih di situ yang tanpa rasa malu atau segan diraut wajahnya.


Setelah imam turun dari mimbar, sholat Jumaat kemudian dilakukan, biar dibakar terik mentari dan peluh menitis dan memercik di muka, perempuan dan sapi tua itu masih saja di situ.


Segera setelah jemaah selesai sholat dan berdoa, tiba-tiba perempuan itu dengan tergesa-gesa menarik sapi itu membawanya ke depan pintu masjid sambil menanti dengan penuh sabar tanpa mempedulikan jemaah yang keluar. Ramai juga orang yang tidak beranjak dan perasaan ingin tahu, apa yang bakal dilakukan oleh perempuan tua itu.
Tatkala imam masjid keluar, perempuan tua itu bingkas berkata,


"Wahai imam, aku telah mendengar kisah sedih penduduk di Gaza. Aku seorang yang miskin tetapi aku bersimpati dan ingin membantu. Sudilah kau terima satu-satunya sapi yang ku punyai untuk dibawa ke Gaza, untuk di berikan kepada penduduk di sana."

Gaduh seketika orang yang berada di masjid itu. Imam kaget dengan permintaan perempuan itu namun keberatan untuk menerima. Ya, bagaimana membawa sapi tua itu ke Gaza? Kemudian para jemaah mulai bercakap-cakap. Ada yang mengatakan tindakan itu tidak munasabah apalagi sapi itu sudah tua dan tiada harga. 


 "Tolonglah.. bawalah sapi ini ke Gaza. Inilah saja yang aku punya. Aku ingin benar membantu mereka", ulang perempuan yang tidak dikenali itu. 

Imam tadi masih keberatan. Masing-masing jemaah berkata-kata dan berbisik antara satu sama lain. Semua pandangan tertumpu kepada perempuan dan sapi tuanya itu. 

Mata perempuan tua yang miskin itu sudah mulai berkaca dan berair namun tetap tidak beranjak dan terus merenung ke arah imam tersebut. Sunyi seketika suasana.



Tiba-tiba muncul seorang jemaah lalu bersuara mencetuskan idea,


"Tak mengapalah, biar aku beli sapi perempuan ini dengan harga 10,000 riyal dan bawa uang itu kemudian sedekahkanlah kepada penduduk di Gaza."

Imam kemudian nampak setuju. Perempuan miskin tua itu kemudian menyeka air matanya yang sudah tumpah. Dia membisu namun sepertinya setuju dengan pendapat jemaah itu.
Tiba-tiba bangkit pula seorang anak muda, memberi pandangan yang jauh lebih hebat lagi,


"Bagaimana kalau kita rama-ramai membuat tawaran tertinggi sambil bersedekah untuk membeli sapi ini dan duit nya nanti diserahkan ke Gaza?"

Perempuan itu terkejut, termasuk imam itu juga. Rupa-rupanya cetusan anak muda ini diterima semua orang. Kemudian dalam beberapa menit para jemaah berebut-rebut menyedekahkan uang mereka untuk dikumpulkan dengan cara lelang tertinggi.


Ada yang mulai menawar dari 10,000 ke 30,000 riyal dan berlanjutan untuk seketika. Suasana pekarangan masjid di Yaman itu menjadi riuh selama proses lelang sapi tersebut.
Akhirnya sapi tua, kurus dan tidak bermaya milik perempuan tua miskin itu dibeli dengan harga 500,000 riyal, setelah itu uang diserahkan kepada imam masjid, semua sepakat membuat keputusan itu, kemudian salah seorang jemaah berbicara kepada perempuan tua itu. 

"Kami telah melelang sapi kamu dan telah mengumpulkan uang sejumlah 500,000 riyal untuk membeli sapi itu."

"Akan tetapi kami telah sepakat, uang yang terkumpul tadi diserahkan kepada imam untuk disampaikan kepada penduduk Gaza dan sapi itu kami hadiahkan kembali kepada kamu", katanya sambil memperhatikan perempuan tua nan miskin itu yang kembali meneteskan air mata, gembira. 


Tanpa diduga, Allah mentakdirkan segalanya, niat perempuan miskin itu untuk membantu meringankan beban penderitaan penduduk Palestina akhirnya tercapai dan dipermudahkan sehingga terkumpul uang yang banyak tanpa kehilangan harta satu-satunya yang ada.


Subhanallah.

Kisah Cinta Ayah Kepada Anaknya


Sebuah kisah yang mungkin dapat sejenak mengingatkan kita akan besarnya cinta orang tua kepada anaknya, walaupun mungkin kita sebagai anak sering lupa dengan keadaan orang tua kita sekarang yang sejak dahulu telah mengorbankan segalanya, untuk membuat kita selalu tersenyum dan bahagia.

Kisah inspiratif ini dibuat oleh sebuah perusahaan asuransi di Thailand. Berikut ini link videonya, semoga bisa membuat kita selalu ingat dengan kedua orang tua yang selalu mencintai kita selamanya.

Jalan Tuk Mengubah Dunia

 
Ketika aku muda, aku ingin mengubah seluruh dunia. Lalu aku sadari, betapa sulit mengubah seluruh dunia ini, lalu aku putuskan untuk mengubah negaraku saja.

Ketika aku sadari bahwa aku tidak bisa mengubah negaraku, aku mulai berusaha mengubah kotaku. 

Ketika aku semakin tua, aku sadari tidak mudah mengubah kotaku. Maka aku mulai mengubah keluargaku.

Kini aku semakin renta, aku pun tak bisa mengubah keluargaku. Aku sadari bahwa satu-satunya yang bisa aku ubah adalah diriku sendiri.

Tiba-tiba aku tersadarkan bahwa bila saja aku bisa mengubah diriku sejak dahulu, aku pasti bisa mengubah keluargaku dan kotaku. Pada akhirnya aku akan mengubah negaraku dan aku pun bisa mengubah seluruh dunia ini.

Kawan, tak ada yang bisa kita ubah sebelum kita mengubah diri sendiri. Tak bisa kita mengubah diri sendiri sebelum mengenal diri sendiri. Takkan kenal pada diri sendiri sebelum mampu menerima diri ini apa adanya.

Arti Sebuah Kesetiaan

Bapak Eko Pratomo Suyatno
 Ini cerita nyata (pernah ditayangkan di MetroTV), beliau adalah Bapak Eko Pratomo Suyatno, Direktur Fortis Asset Management yag sangat terkenal di kalangan Pasar Modal dan Investment, beliau juga sangat sukses dlm memajukan industri Reksadana di Indonesia.

Dilihat dari usianya beliau sudah tidak muda lagi, usia yang sudah senja bahkan sudah mendekati malam, 58 tahun. Kesehariannya diisi dengan merawat istrinya yang sakit, juga sudah tua. Mereka menikah sudah lebih 32 tahun. Mereka dikarunia 4 orang anak.

Disinilah awal cobaan menerpa, setelah istrinya melahirkan anak keempat tiba-tiba kakinya lumpuh dan tidak bisa digerakkan. Itu terjadi selama 2 tahun. Menginjak tahun ke tiga, seluruh tubuhnya menjadi lemah bahkan terasa tidak bertulang, lidahnyapun sudah tidak bisa digerakkan lagi.

Setiap hari Pak Suyatno memandikan, membersihkan kotoran, menyuapi, dan mengangkat istrinya keatas tempat tidur. Sebelum berangkat kerja, dia letakkan istrinya didepan TV supaya istrinya tidak merasa kesepian. Walau istrinya tidak dapat bicara tapi dia selalu melihat istrinya tersenyum.

Untunglah tempat usaha Pak Suyatno tidak begitu jauh dari rumahnya sehingga siang hari dia pulang untuk menyuapi istrinya makan siang. Sorenya dia pulang memandikan istrinya, mengganti pakaian dan selepas waktu maghrib dia temani istrinya nonton televisi sambil menceritakan apa-apa saja yg dia alami seharian. Walaupun istrinya hanya bisa memandang tapi tidak bisa menanggapi, Pak Suyatno sudah cukup senang, bahkan dia selalu menggoda istrinya setiap berangkat tidur.

Rutinitas ini dilakukan Pak Suyatno lebih kurang 25 tahun, dengan sabar dia merawat istrinya bahkan sambil membesarkan ke 4 buah hati mereka, sekarang anak-anak mereka sudah dewasa, tinggal si bungsu yg masih kuliah.

Pada suatu hari, ke empat anak Suyatno berkumpul dirumah orang tua mereka sambil menjenguk ibunya. Karena setelah anak mereka menikah, sudah tinggal dengan keluarga masing-masing dan Pak Suyatno memutuskan ibu mereka dia yang merawat, yang dia inginkan hanya satu, semua anaknya berhasil.

Dengan kalimat yang cukup hati-hati anak yg sulung berkata, 

"Pak kami ingin sekali merawat ibu, semenjak kami kecil melihat bapak merawat ibu, tidak ada sedikitpun keluhan keluar dari bibir bapak, bahkan bapak tidak ijinkan kami menjaga ibu."

Dengan air mata berlinang anak itu melanjutkan kata-kata, 

"Sudah yang keempat kalinya kami mengijinkan bapak menikah lagi, kami rasa ibupun akan mengijinkannya, kapan bapak menikmati masa tua bapak, dengan berkorban seperti ini kami sudah tidak tega melihat bapak. Kami janji kami akan merawat ibu sebaik-baik secara bergantian."

Pak Suyatno menjawab hal yang sama sekali tidak diduga anak-anaknya, 

"Anak-anakku, jikalau perkawinan dan hidup di dunia ini hanya untuk nafsu, mungkin bapak akan menikah. Tapi ketahuilah dengan adanya ibu kalian disampingku itu sudah lebih dari cukup, dia telah melahirkan kalian", sejenak kerongkongannya tersekat, "Kalian yg selalu kurindukan hadir didunia ini dengan penuh cinta yg tidak satupun dapat dihargai dengan apapun."

"Coba kalian tanya ibumu apakah dia menginginkan keadaannya seperti ini? Kalian menginginkan bapak bahagia, apakah bathin bapak bisa bahagia meninggalkan ibumu dengan keadaanya sekarang, kalian menginginkan bapak yang masih diberi Tuhan kesehatan dirawat oleh orang lain? Bagaimana dengan ibumu yg masih sakit."

Sejenak meledaklah tangis anak-anak Pak Suyatno. Merekapun melihat butiran-butiran kecil jatuh dipelupuk mata ibu Suyatno. Dengan pilu ditatapnya mata suami yg sangat dicintainya itu.

Sampailah akhirnya Pak Suyatno diundang oleh salah satu stasiun TV swasta untuk menjadi nara sumber dan merekapun mengajukan pertanyaan kepada Suyatno, kenapa mampu bertahan selama 25 tahun merawat Istrinya yang sudah tidak bisa apa-apa.

Disaat itulah meledak tangis beliau dengan tamu yang hadir di studio, kebanyakan kaum hawa pun tidak sanggup menahan haru. Disitulah Pak Suyatno bercerita,

"Jika manusia didunia ini mengagungkan sebuah cinta dalam perkawinannya, tetapi tidak mau memberi (memberi waktu, tenaga, pikiran, perhatian) itu adalah kesia-siaan."

"Saya memilih istri saya menjadi pendamping hidup saya, dan sewaktu dia sehat diapun dengan sabar merawat saya, mencintai saya dengan hati dan bathinnya bukan dengan mata, dan dia memberi saya 4 orang anak yg lucu-lucu. Sekarang dia sakit karena berkorban untuk cinta kita bersama. Dan itu merupakan ujian bagi saya, apakah saya dapat memegang komitmen untuk mencintainya apa adanya. Sehatpun belum tentu saya mencari penggantinya apalagi dia sakit."