Selasa, 28 Januari 2014

Kentang, Telur dan Biji Kopi

Suatu ketika, seorang putri mengadu pada ayahnya bahwa hidupnya sengsara dan dia tidak ahu bagaimana cara untuk melaluinya. Sekarang dia lelah harus berjuang dan berjuang sepanjang waktu. Seolah satu masalah selesai lalu masalah lain akan muncul lagi.

Ayahnya, seorang koki, membawanya ke dapur. Ia mengisi tiga panci dengan air dan menaruhnya si atas api tinggi. Setelah air dalam tiga panci itu mendidih, ia menaruh kentang dalam panci pertama, telur pada panci kedua, dam bijii kopi di panci yang ketiga. Dia kemudian duduk dengan putrinya, membiarkan panci-panci itu tetap mendidih, namun ia tak berbicara sepatah kata pun pada putrinya.
Putrinya merasa jengkel, tidak sabar menunggu, bertanya-tanya apa yang ayahnya lakukan.


 
Setelah dua puluh menit, ia mematikan kompor. Dia mengambil kentang dari panci dan menempatkannya dalam mangkuk. Dia mengambil telur dai panci dan menempatkannya dalam magkuk lain. Kemudian dia menyendok biji-biji kopi dan ditampatkan dalam cangkir. Lalu di beralih kepada putrinya.

"Nak, apa yang kau lihat?"

"Kentang, telur, dan kopi," dia buru-buru menjawab.


"Lihat lebih dekat," katanya, "sentuh kentangnya". Dia melakukannya dan merasakan bahwa kentang itu terasa lebih lunak.

Dia kemudian meminta putrinya untuk mengambil telur dan memecahkannya. Setelah mengupas kulitnya, ia mengamati telur rebus itu.

Akhirnya, ayahnya memintanya untuk mencicipi kopi. Aroma yang kaya membuatnya tersenyum. "Ayah, apa artinya ini?" tanyanya. 

Dia kemudian menjelaskan bahwa kentang, telur dan biji kopi masing-masing telah menghadapi kesulitan yang sama - air mendidih. Namun, masing-masing menunjukkan reaksi yang berbeda. Kentang yang kuat dan keras, namun dalam air mendidih, ia menjadi lunak dan lemah. Telur itu rapuh, dengan kulit luar tipis melindungi interior cair. Sampai itu dimasukkan ke dalam air mendidih, bagian dalam telur itu menjadi keras. Namun, biji kopi itu sungguh unik. Setelah mereka terkena air mendidih, mereka mengubah air dan menciptakan sesuatu yang baru.

"Ketika kesulitan mengetuk pintumu, bagaimana kamu menanggapinya? Apakah kamu seorang kentang, telur, atau biji kopi?"

Minggu, 19 Januari 2014

Melihat Dari Sudut Pandang Berbeda

Seorang Ayah sedang membaca majalah dan putri kecilnya ingin bermain dan mengganggunya. Untuk membuat putrinya sibuk, ia merobek satu halaman yang bergambar peta dunia. Dia merobeknya lagi menjadi potongan-potongan kecil dan meminta putrinya untuk pergi ke kamarnya dan menyusun potongan-potongan peta itu lagi. Dia yakin putrinya akan membutuhkan sepanjang hari untuk menyelesaikannya. Tapi si kecil kembali dalam beberapa menit dengan peta yang sempurna. 

Ketika ia bertanya bagaimana ia bisa melakukannya begitu cepat, ia berkata, " Oh Ayah, kan ada wajah seorang pria di sisi lain dari kertas. Aku membuat wajah sempurna untuk mendapatkan peta yang tepat." 

Dia berlari keluar untuk bermain meninggalkan ayah yang terkejut. 

Selalu ada sisi lain untuk apa pun yang Anda alami di dunia ini. Setiap kali kita menemukan tantangan atau situasi yang membingungkan, coba lihat dari sisi lain. Anda akan terkejut melihat sebenarnya betapa mudah untuk mengatasi masalah itu.

Hakikat Ilmu

Seorang doktor di bidang aqidah bertanya pad Syeikh Dr. Umar Al Asyqor guru besar ilmu aqidah, "Wahai Syeikh, saya sudah mencapai gelar akademik tertinggi dalam ilmu aqidah, namun saya belum merasakan dalamnya aqidah ini tertanam dalam hati dan jiwa."

Maka Syeikh Dr. Umar Al Asyqor menjawab, "Pertanyaan itu sudah pernah ditanyakan oleh Syeikhul Islam Ibnul Qoyyim Al Jauziyyah kepada gurunya Syeikhul Islam Ibnu Taimiyyah. Syeikhul Islam Ibnu Taimiyyah menjawab: Apa yang engkau pelajari hanyalah kaidah-kaidah (rumusan-rumusan) dalam masalah aqidah, sedangkan jika engkau ingin merasakan dalamnya aqidah tertanam di dalam hati dan jiwamu, maka hayati dan resapilah kandungan al-Qur'an."

Sesungguhnya, ilmu tauhid yang kita pelajari selama ini, ternyata baru sekedar kaidah atau rumusan seperti rumus Matematika dan Kimia atau rumus lainnya. Aqidah hanya sebagai kekayaan kognitif. Tidak sampai merasuk ke dalam jiwa yang paling dalam, aqidah memiliki efek apapun. Tanpa praktek nyata, maka rumusan aqidah itu tinggal rumusan tinggal rumusan tanpa arti walaupun sebanyak apapun kita menghafalnya.

Minggu, 12 Januari 2014

Seorang Bocah dan Tiga Pertanyaan

Dahulu, ada seorang pria yang sangat memusuhi Islam. Dia memiliki tiga pertanyaan yang sangat terkenal karena tak seorang pun dapat menjawabnya. Tidak ada seorang ulama pun di Baghdad bisa menjawab tiga pertanyaannya, sehingga ia menertawakan Islam terang-terangan. Dia terus-menerus mengejek Islam dan kaum Muslimin.  

Suatu hari seorang anak kecil, yang berusia 10 tahun, datang dan mendengar pria itu berteriak dan berteriak memaki pada umat Islam di jalan. Dia menantang orang secara terbuka untuk menjawab tiga pertanyaan.

Anak itu berdiri tenang dan menyimak. Dia kemudian memutuskan bahwa ia akan menantang orang itu. Dia berjalan dan mengatakan kepada orang itu, "Saya akan menerima tantangan Anda".


Pria itu menertawakan  anak itu
dan bahkan lebih mengejek umat Islam dengan mengatakan, " Seorang anak laki-laki berusia sepuluh tahun menantangku. Apakah hanya ini yang kalian punya!"

Tapi anak itu dengan sabar mengulangi sikapnya. Dia akan menantang orang itu, dan dengan bantuan dan bimbingan Allah, dia ingin supaya kesombongan orang ini segera berakhir.
Pria itu akhirnya  menerima. 


Seluruh kota itu dikelilingi bukit kecil di mana banyak tempat tinggi yang terbuka. Pria itu naik ke atas, dan dengan suara lantang ia mengajukan pertanyaan pertamanya. 

"Apa yang Tuhan Anda lakukan sekarang?" Bocah itu berpikir beberapa saat dan kemudian mengatakan kepada pria untuk menuruni bukit dan pergi ke suatu alamat dalam rangka untuk menjawab pertanyaannya. Orang itu berkata "Apa? Kau ingin aku turun?" Anak itu berkata, "Ya. Aku harus menjawabnya, kan?" Pria itu berjalan menuruni bukit. Dan anak kecil itu, usia 10 tahun, dengan kaki kecilnya berjalan ke atas. Jawaban anak kecil ini adalah "Ya Allah yang Maha Kuasa! Engkau menjadi saksiku di depan semua orang ini. Engkau baru saja menghendaki bahwa kafir itu direndahkan derajatnya, dan bahwa seorang Muslim dibawa ditinggikan derajatnya!"

Kerumunan bersorak dan meneriakkan takbir "Allahu akbar!" Pria itu telah dipermalukan, tapi dia berani mengajukan pertanyaan keduanya "Apa yang ada di hadapan Allahmu?" Anak kecil berpikir dan berpikir .Lalu ia meminta pria itu untuk menghitung mundur. "Hitung mundur dari 10" Pria itu menghitung, " 10, 9, 8, 7, 6, 5, 4, 3, 2, 1, 0 " Anak itu bertanya, "Apa yang datang sebelum 0?" Pria itu menjawab, "Aku tidak tahu, apa-apa." Anak itu kemudian menjawab "Tepat! Tidak ada sebelum Allah, karena Dia Abadi dan Mutlak." Kerumunan menyerukan takbir lagi. "Allahu akbar!" 

Pria itu sekarang benar-benar frustrasi, mengajukan pertanyaan terakhirnya. "Ke arah mana Allah itu menghadap?" Anak itu berpikir dan berpikir. Dia kemudian meminta lilin. Sebuah lilin dibawa kepadanya. Bocah itu menyerahkannya ke orang itu dan memintanya untuk menyalakannya .Pria itu melakukannya dan berkata, "Apakah dengan ini kau bisa membuktikan?" Bocah itu justru bertanya lagi, "Ke arah mana cahaya dari lilin ini akan pergi?" Pria itu menjawab, "Ke segala arah." Anak itu berkata, "Anda telah menjawab pertanyaan Anda sendiri, cahaya Allah pergi ke segala arah, Dia di mana-mana. Tidak ada tempat bahwa Dia tidak dapat ditemukan" Orang-orang bersorak lagi, "Allahu akbar!"

Kini pria itu sangat terkesan dan begitu tersentuh oleh pengetahuan dan spiritualitas bocah itu, kemudian ia memeluk Islam dan menjadi murid dari bocah itu. Jadi berakhirlah perdebatan. 

Siapakah bocah tersebut? Bocah tersebut adalah salah satu pemimpin kita dan salah satu ulama besar, Imam Abu Hanifah ra.

Tentang Perjuangan

Seorang pria menemukan sebuah kepompong kupu-kupu. Suatu hari, lubang kecil muncul. Kupu-kupu itu berusaha keluar. Dia duduk dan mengamati kupu-kupu itu selama beberapa jam karena berjuang untuk memaksa tubuhnya keluar melalui lubang yang kecil.

Kemudian kupu-kupu itu tampak berhenti, tak membuat kemajuan apapun. Tampaknya seolah-olah hanya sejauh itu yang dia bisa. Maka, pria itu memutuskan untuk membantu kupu-kupu itu untuk keluar.

Dia mengambil gunting dan memotong sedikit lubang kepompong itu. Kupu-kupu itu muncul dengan mudah . Tapi itu memiliki tubuh yang bengkak dan kecil, dan sayapnya keriput. Pria itu terus mengamati kupu-kupu itu. Karena dia berharap, sayapnya akan membesar untuk dapat terbang.

Namun hal itu tidak terjadi. Bahkan, kupu-kupu itu menghabiskan sisa hidupnya dengan merayap, dengan tubuh yang bengkak dan sayap yang layu. Ia tak pernah bisa terbang.

Dan orang itu, dalam kebaikannya yang tergesa-gesa, tidak mengerti bahwa kepompong adalah batas perjuangan yang dibutuhkan kupu-kupu untuk mendapatkan bentuk sempurna melalui lubang kecil.

Adalah cara Allah yang memiliki skenario sempurna: perjuangan, sehingga ia akan siap untuk penerbangan setelah bebas dari kepompong.

Kadang-kadang perjuangan adalah persis apa yang kita butuhkan dalam hidup kita. Jika Allah memungkinkan kita untuk pergi melalui hidup tanpa hambatan, itu akan melumpuhkan kita. Kita tidak akan sekuat seperti apa yang kita bisa setelah berjuang. Kita takkan pernah bisa "terbang"!

Aku meminta Kekuatan,
dan Allah memberiku Kesulitan untuk membuatku kuat
Aku meminta Kebijaksanaan,
dan Allah memberiku Permasalahan untuk dipecahkan
Aku meminta untuk Harta,
dan Allah memberiku Otak dan Otot untuk bekerja
Aku meminta Keberanian,
dan Allah memberiku Bahaya untuk dapat kuatasi
Aku meminta Cinta,
dan Allah memberiku orang-orang yang bermasalah untuk kubantu
Aku meminta untuk Rezeki,

dan Allah memberiku Peluang
Aku bersyukur atas apa yang ku inginkan,
dan menerima semua yang saya butuhkan!

Jumat, 10 Januari 2014

Jika Ayah dan Ibuku Bodoh?

Seorang guru baru, wanita muda dengan kecenderungan liberal masuk ke dalam kelas. Muridnya adalah anak-anak kecil berusia 6-7 tahun. Ia menjelaskan pada murid-muridnya bahwa ia adalah seorang atheis dan bangga akan hal itu.

Dia bertanya pada murid-muridnya apakah mereka atheis juga. Sebenarnya mereka tidak benar-benar mengerti apa itu atheis, tapi mereka serempak mengacungkan jari dan ingin menjadi atheis, seperti guru mereka yang cantik itu.

Semua, kecuali satu. Seorang gadis cantik bernama Zainab. Dia tidak mengacungkan tangan, bahkan tertawa kecil melihat tingkah teman-temannya. Melihat itu, gurunya bertanya mengapa ia berbeda. "Karena aku bukan seorang atheis."

Kemudian, guru bertanya, "Lalu apa?"

"Saya seorang Muslim." Bu Guru mulai sedikit terganggu dengan pernyataan gadis kecil itu. "Kenapa kamu memilih untuk menjadi seorang Muslim?"

"Yaah, saya dibesarkan di keluarga yang mengenal dan mencintai Tuhan. Ibu saya adalah seorang Muslim, dan ayah saya adalah seorang Muslim. Jadi saya seorang Muslim."

Guru itu sekarang marah dan membentak, "Itu bukan alasan! Bagaimana kalau kalau ibumu orang yang bodoh, dan ayahmu juga orang yang bodoh? Apakah yang akan kamu lakukan?"

"Lalu," kata Zainab, "Aku akan menjadi seorang atheis."

Rabu, 08 Januari 2014

Triple Filter Test

Pada masa emas Dinasti Abbasiyah, salah satu sekolah di Baghdad, ibukota kekhalifahan Islam saat itu, konon memiliki peranan yang sangat tinggi dalam bidang ilmu pengetahuan.

Suatu hari, ada seorang pria yang bertemu dengan sarjana besar dan berkata, "Apakah Anda tahu apa yang saya dengar tentang teman Anda?"

"Tunggu sebentar" jawab sarjana. "Sebelum Anda menceritakan apapun, saya ingin Anda lulus untuk sebuah tes kecil. Saya menyebutnya Triple Filter Test, tiga tes penyaring."

"Tiga penyaring?"

"Ya. Sebelum Anda berbicara tentang teman saya itu, mungkin merupakan ide yang baik jika kita meluangkan waktu sejenak dan menyaring apa yang akan Anda katakan. Itulah mengapa saya menyebutnya Triple Filter Test."

"Filter pertama adalah Kebenaran. Apakah Anda benar-benar yakin bahwa apa yang akan Anda katakan kepada saya adalah suatu Kebenaran?"

"Tidak," kata pria itu, "sebenarnya aku hanya mendengar tentang hal itu dan..."

"Baiklah" kata sarjana. "Jadi Anda tidak benar-benar tahu apakah itu benar atau tidak."

"Sekarang, mari kita coba filter kedua, Kebaikan. Apakah yang akan Anda ceritakan tentang teman saya itu sesuatu yang baik?"

"Tidak, sebaliknya..."

"Jadi," sarjana itu melanjutkan, "Anda ingin mengatakan sesuatu yang buruk tentang dia, tetapi Anda tidak yakin itu benar."

"Baiklah, mungkin anda masih bisa lulus, karena masih ada satu filter tersisa, Kegunaan. Apakah yang akan Anda ceritakan tentang teman saya akan berguna bagi saya?"

"Entahlah, saya rasa tidak."

"Yaah!" kata sarjana. "Jika apa yang Anda ingin katakan bukan benar, baik atau bahkan berguna, mengapa tetap ingin Anda katakan?"

Kamis, 02 Januari 2014

Dipermalukan Karena Menghina al-Qur'an

Suatu hari, di salah satu universitas ternama di negara liberal.

Dosen: "Saya bingung. Banyak umat Islam di seluruh dunia pada lebay. Kenapa harus protes dan demo besar-besaran cuma karena tentara Amerika menginjak, meludahi dan mengencingi al-Qur'an? Wong yang dibakar kan cuma kertah, cuma media tempat Qur'an ditulis saja kok. Yang Qur'an-nya kan katanya ada di Lauh Mahfuzh. Dasar ndeso. Saya kira banyak umat orang Islam yang mesti dicerdaskan".

Meskipun pongah, namun banyak mahasiswa yang setuju dengan pendapat dosen liberal gila ini. Memang Qur'an kan hakikatnya ada di Lauh Mahfuzh.

Tak lama, sebuah langkah memecah kesunyian kelas. Seorang mahasiswa berwajah Arab kreatif mendekati dosen kemudian mengambil diktat kuliah si dosen, dan membaca sedikit sambil sesekali menatap tajam si dosen.

Kelas makin hening, para mahasiswa dan dosen sedikit cemas, dan tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.

Mahasiswa: "Wah, saya sangat terkesan dengan hasil analisa Bapak yang ada disini." ujarnya sambil membolak-balik halaman diktat tersebut.

"Fiuuhhh..." semua orang di kelas itu lega karena tadinya mengira ada yang tidak beres dengan mahasiswa itu.

Namun tiba-tiba sang mahasiswa meludahi, membanting dan menginjak-nginjak diktat dosen tersebut. Kelas menjadi heboh. Semua orang kaget, tak terkecuali si dosen liberal itu.

Dosen: "Kamu...?! Berani melecehkan saya?! Kamu tahu apa yang kamu lakukan?! Kamu menghina karya ilmiah hasil pemikiran saya! Lancang kamu!"

Si dosen hendak melayangkan tangannya, namun dengan cekatan sang mahasiswa menangkis dan menangkap tangan si dosen.

Mahasiswa: "Kok marah, Pak? Saya kan cuma nginjak kertas, Pak. Ilmu dan pikiran yang Bapak punya kan ada di kepala Bapak. Ngapain Bapak marah kalau yang saya injak cuma kertas, kan bukan kepala Bapak. Kayaknya Bapak yang perlu dicerdaskan ya?".


Si dosen merapikan pakaiannya dan segera meninggalkan kelas dengan perasaan malu yang amat sangat.

Itulah cara Allah membalas orang-orang yang sombong, ia akan dipermalukan pada akhirnya.

Menjenguk Tuhan

Pada pagi hari di hari lebaran yang lalu, Mas Mono tidak muncul di tempat sholat Idh. Padahal boleh dibilang, sebagian besar warga kampung tumplek blek disana dalam suasana khusyuk sekaligus gembira.

Ketidak hadiran Mas Mono banyak dipertanyakan orang. Ya, apabila pada kesempatan yang agung seperti sholat Id, lelaki paruh baya itu tidak terlihat, pasti ada sesuatu yang terjadi atas dirinya. Maka setelah selesai sholat dan bersalaman dengan sesama warga kampung, saya langsung menuju rumah Mas Mono. Den Beni dan Kang Manto yang mengetahui rencana saya sontak bergabung.

Sampai di tujuan kami mendapati rumah Mas Mono terlihat sepi. Pintu depan tertutup. Anehnya, dari dalam terdengar suara radio menggemakan takbir. Den Beni memanggil-manggil pemilik rumah, tak ada jawaban. Kami saling berpandangan karena kami mulai cemas, jangan-jangan telah terjadi sesuatu yang serius terhadap orang yang sering kami ajak jagongan ini. Saya usul agar Pak RT diberitahu, sebab siapa tahu ia kena musibah tersengat listrik misalnya. Ya, saya bergerak menuju ke rumah Pak RT.

Tetapi belum jauh kaki melangkah, tiba-tiba kami mendengar suara orang terbatuk dari gubug agak di belakang rumah Mas Mono. Itu rumah liliput yang ditinggali sendiri oleh Nek Tim. Kami bertiga sepakat pergi ke gubug itu dan menemukan Mas Mono sudah berada disana. Anehnya Mas Mono sudah necis dengan dandanan kain sarung serta kopiah baru. Baju kokonya putih bersih seperti orang yang siap pergi ke masjid.

“Kok sampeyan masih disini?“ tanya Den Beni. “ Kenapa tidak ikut sholat Idh?“

Mas Mono tidak segera menjawab karena Nek Tim yang tergeletak lemah di balai bambu kembali terbatuk, dan terus terbatuk lalu mengerang. Sosok tubuhnya yang tampak sangat ringkih hampir lenyap di balik selimut kain lusuh. Kami merasa terjebak oleh suasana haru. Apalagi setelah kami mengetahui lebih jelas keadaan di dalam gubug itu; tak ada makanan atau minuman apalagi obat-obatan.

“Tadi pagi sebenarnya saya sudah siap berangkat ke tempat sholat Idh. Tapi karena mendengar Nek Tim terus terbatuk, saya datang kemari." Mas Mono mencoba memberi penjelasan.

“Lalu sampeyan tak tega meninggalkan dia seorang diri?“ tanya saya.

Mas Mono mengangguk, dan wajahnya kelihatan ragu. “Karena menemani Nek Tim sehingga tak bisa pergi sholat Idh, apakah saya salah?“ tanya Mas Mono dengan pandangan mata tertuju kepada saya.

Den Beni dan Kang Manto pun berbuat sama sehingga saya merasa jadi pusat perhatian. Entahlah, pertanyaan Mas Mono terasa langsung menusuk dasar iman saya. Ya Tuhan, saya merasa malu karena tiba-tiba saya teringat pernyataan Tuhan sendiri bahwa barang siapa menjenguk si sakit, si haus, dan si lapar, maka berarti dia telah menjenguk Tuhan. Dan ternyata Mas Mono-lah yang telah melakukan kesalehan tersebut. Saya merasakan adanya ironi yang tajam karena sangat boleh jadi Mas Mono justru belum tahu akan adanya pernyataan Tuhan itu. Nek Tim terbatuk lagi, kering dan dalam.

“Wong ditanya kok malah bengong,“ kalimat Den Beni mengejutkan saya.

“Ya Den, saya sangat percaya tak ada kesalahan apa pun pada diri Mas Mono yang tidak pergi sholat Idh demi menemani Nek Tim.“

“Ah apa iya?“ tanya Kang Manto. “Meninggalkan sholat Idh untuk menjaga orang sakit, apakah tidak berarti lebih mengutamakan kepentingan manusia ketimbang kepentingan Tuhan?“

Lagi, dasar iman saya terasa tertusuk, kali ini oleh pertanyaan Kang Manto. Karena gelisah, saya tak bisa segera bicara. Pikiran saya melayang. Oh, alangkah banyak orang lupa bahwa hakikat ibadah adalah penyebarluasan kasih sayang Ilahi di dunia agar manusia berjumpa dengan Tuhan dalam rahmatullah kelak. Dan pagi ini Mas Mono memang telah meninggalkan sholat Idh. Namun sebagai penggantinya lelaki tersebut telah melakukan ibadah maknawi yang sangat tinggi nilainya. Mas Mantri telah menunaikan silaturahmi paling hakiki antar sesama manusia, sekaligus menziarahi Tuhan seperti telah dinyatakan dalam sabda Dia sendiri. Silaturrahmi macam itu terang lebih maknawi daripada sholat (sunah) Idh, serta salam-salaman yang masih bersifat simbolis.

“Eeeee… kamu kok jadi pelamun?“ tegur Kang Manto. “Tadi saya bertanya, apakah tindakan Mas Mono pagi ini tidak berarti menomor satukan kepentingan manusia dan menomor duakan kesetiaan terhadap Tuhan?“

“Saya yakin tidak!“ Jawab saya sambil menelan ludah. “Soalnya begini, apabila sampai terjadi Nek Tim meninggal dalam keadaan merana, orang sekampung, terutama Mas Mono yang tinggal paling berdekatan yang berdosa. Bukankah seorang seperti Nek Tim ini merupakan amanat Tuhan bagi kita semua? Lagi pula sholat Idh hukumnya kan sunah. Sementara menyantuni fakir miskin hukumnya wajib. Jadi pagi ini Mas Mono telah meninggalkan perkara sunah demi melakukan pekerjaaan wajib. Maka tidak salah bukan?“

Den Beni dan Kang Manto diam, saya kira pegawai kantor kecamatan dan tukang becak lugu itu bisa memahami omongan saya.

“Kita tidak layak terlalu banyak omong di hadapan Nek Tim yang sedang sakit,“ Mas Mono tiba-tiba bicara. “Kita harus segera melakukan pertolongan nyata. Saya mau pergi ke apotik jaga, cari obat sementara. Saya minta Kang Manto pergi ke kecamatan tetangga memberitahu kerabat Nek Tim.“

“Saya akan mengambil termos dan makanan,“ kata saya.

“Lalu saya kebagian apa?“ tanya Den Beni. 


“Sementara kami pergi, tungguilah Nek Tim disini,“ jawab Mas Mono.

“Jadi kita tidak melakukan silaturahmi dan salam-salaman? Ini kan hari lebaran?“ tanya Den Beni lagi.

“Ya inilah silaturahmi yang sebenar-benarnya“ jawab Kang Manto.

Ah ternyata tukang becak lugu itu bisa menjawab dengan tepat pertanyaan Den Beni. Kemudian Mas Mono, saya dan Kang Manto berangkat. Pagi ini kami merasakan sentuhan hakikat persaudaraan sejati. Karena pagi ini kami mengikuti Mas Mono menjenguk Tuhan.



Dari Abu Hurairah ra., ia berkata, “Rasulullah saw. Bersabda, “Sesungguhnya Allah Yang Maha Besar berfirman pada hari kiamat, “Wahai anak Adam, Aku sakit namun kamu tidak menjenguk-Ku.” Ia berkata, “Wahai Tuhan saya, bagaimana saya menjenguk- Mu, sedang Engkau adalah Tuhan semesta alam?” Dia berfirman, “Tidakkah kamu mengetahui bahwa hamba- Ku Fulan sakit, namun kamu tidak menjenguknya? Tidakkah kamu mengetahui, seandainya kamu menjenguknya, niscaya kamu mendapati Aku di sisinya. Wahai anak Adam, Aku minta makan kepadamu, namun kamu tidak memberi-Ku makan.” Ia berkata, “Wahai Tuhan saya, bagaimana saya memberi makan kepada-Mu, sedangkan Engkau Tuhan semesta alam?” Allah berfirman, “Tidakkah kamu mengetahui bahwa hamba Ku si Fulan minta makan kepadamu, tetapi kamu tidak memberinya makan? Apakah kamu tidak mengetahui bahwa seandainya kamu memberinya makan, niscaya kamu mendapatkannya di sisi-Ku? Wahai anak Adam, Aku minta minum kepadamu, tapi kamu tidak memberiku minum.” Ia berkata, “Bagaimanakah saya memberi-Mu minum, sementara Engkau adalah Tuhan semesta alam?” Allah berfirman, “Hambaku si Fulan minta minum kepadamu, tetapi kamu tidak memberinya minum. Sesungguhnya seandainya kamu memberinya minum, niscaya kamu mendapatinya di sisi-Ku.”

 

Diceritakan oleh Kang HIAS.

Setoples Kehidupan

Seorang profesor filsafat berdiri di depan kelas dengan beberapa benda di atas meja di depannya. Saat kelas dimulai, tanpa sepatah kata ia mengambil toples yang sangat besar dan kosong dan mulai mengisinya dengan batu hingga penuh.

Dia kemudian bertanya kepada siswa apakah toples itu penuh. Mereka setuju bahwa toples itu penuh.


Lalu profesor kemudian mengambil segenggam kerikil dan menuangkan isinya ke dalam toples. Dia mengguncang toples ringan. Kerikil-kerikil itu, tentu saja, mengisi ke daerah yang terbuka di antara bebatuan.


Dia kemudian bertanya kepada siswa lagi apakah toples itu sudah penuh.
Mereka juga setuju bahwa toples itu penuh.

Sang profesor mengambil segenggam pasir dan menuangkannya ke dalam botol itu. Tentu saja, pasir mengisi daerah yang terbuka yang tersisa dari tabung.

Dia kemudian bertanya sekali lagi apakah toples itu penuh. Para siswa menjawab dengan suara bulat "Ya!"


"Sekarang", kata profesor, "Anggap saja bahwa toples ini mewakili kehidupan Anda. Batuan adalah hal-hal penting - keluarga Anda, pasangan Anda, kesehatan Anda, anak-anak Anda - hal-hal yang meskipun segalanya telah hilang dan hanya mereka yang tetap ada, hidup Anda akan tetap penuh". 


"Kerikil adalah hal-hal lain yang penting - seperti pekerjaan Anda, rumah Anda, mobil Anda. Dan pasir adalah segala sesuatu yang lain, hal-hal kecil . "

"Jika yang Anda tempatkan ke dalam toples pertama kali adalah pasir, " lanjutnya, "tidak ada ruang untuk kerikil atau batu. Hal yang sama berlaku untuk hidup Anda. Jika Anda menghabiskan seluruh waktu Anda dan energi pada hal-hal kecil, Anda tidak akan memiliki ruang untuk hal-hal yang penting bagi Anda. Perhatikan hal-hal yang sangat penting untuk kebahagiaan Anda. Bermain dengan anak-anak Anda. Berdansa dengan pasangan Anda. Akan selalu ada waktu untuk pergi ke tempat kerja, membersihkan rumah, membuat pesta makan malam, atau memperbaiki pembuangan".


"Jaga batu dahulu - hal-hal yang benar-benar penting . Tetapkan prioritas Anda. Karena sisanya hanya pasir".

Penebang Pohon

Suatu hari, seorang penebang kayu yang sangat kuat meminta pekerjaan di pedagang kayu dan dia mendapatkannya. Bayarannya benar-benar baik dan begitu juga kondisi kerja. Untuk itu, penebang kayu itu bertekad untuk melakukan yang terbaik.

Bosnya memberinya sebuah kapak dan menunjukkan area di mana ia seharusnya bekerja.


Hari pertama, penebang kayu berhasil membawa 18 pohon.


"Selamat!" kata bos. "Tetaplah seperti itu!"


Termotivasi oleh kata-kata bos, penebang kayu bekerja lebih keras pada hari berikutnya, tapi ia hanya bisa membawa 15 pohon. Hari ketiga dia mencoba lebih keras lagi, tetapi dia hanya bisa membawa 10 pohon. Hari demi hari ia membawa kurang dan kurang pohon.


"Saya pasti kehilangan kekuatanku", pikir penebang kayu. Dia menemui majikannya dan meminta maaf, mengatakan bahwa ia tidak bisa mengerti apa yang sedang terjadi.


"Kapan terakhir kali Anda mengasah kapak?" tanya bos."Mengasah? Saya tidak punya waktu untuk mengasah kapak saya. Saya telah sangat sibuk untuk menebang pohon ..."


 
Refleksi:

 
Hidup kita adalah seperti itu. Kadang-kadang kita begitu sibuk sehingga lupa untuk mempertajam "kapak", memperkaya batin. Kita begitu sibuk sehingga melupakan keadaan diri sendiri yang butuh akan kebersamaan dengan keluarga, teman.