Selasa, 28 Januari 2014

Kentang, Telur dan Biji Kopi

Suatu ketika, seorang putri mengadu pada ayahnya bahwa hidupnya sengsara dan dia tidak ahu bagaimana cara untuk melaluinya. Sekarang dia lelah harus berjuang dan berjuang sepanjang waktu. Seolah satu masalah selesai lalu masalah lain akan muncul lagi.

Ayahnya, seorang koki, membawanya ke dapur. Ia mengisi tiga panci dengan air dan menaruhnya si atas api tinggi. Setelah air dalam tiga panci itu mendidih, ia menaruh kentang dalam panci pertama, telur pada panci kedua, dam bijii kopi di panci yang ketiga. Dia kemudian duduk dengan putrinya, membiarkan panci-panci itu tetap mendidih, namun ia tak berbicara sepatah kata pun pada putrinya.
Putrinya merasa jengkel, tidak sabar menunggu, bertanya-tanya apa yang ayahnya lakukan.


 
Setelah dua puluh menit, ia mematikan kompor. Dia mengambil kentang dari panci dan menempatkannya dalam mangkuk. Dia mengambil telur dai panci dan menempatkannya dalam magkuk lain. Kemudian dia menyendok biji-biji kopi dan ditampatkan dalam cangkir. Lalu di beralih kepada putrinya.

"Nak, apa yang kau lihat?"

"Kentang, telur, dan kopi," dia buru-buru menjawab.


"Lihat lebih dekat," katanya, "sentuh kentangnya". Dia melakukannya dan merasakan bahwa kentang itu terasa lebih lunak.

Dia kemudian meminta putrinya untuk mengambil telur dan memecahkannya. Setelah mengupas kulitnya, ia mengamati telur rebus itu.

Akhirnya, ayahnya memintanya untuk mencicipi kopi. Aroma yang kaya membuatnya tersenyum. "Ayah, apa artinya ini?" tanyanya. 

Dia kemudian menjelaskan bahwa kentang, telur dan biji kopi masing-masing telah menghadapi kesulitan yang sama - air mendidih. Namun, masing-masing menunjukkan reaksi yang berbeda. Kentang yang kuat dan keras, namun dalam air mendidih, ia menjadi lunak dan lemah. Telur itu rapuh, dengan kulit luar tipis melindungi interior cair. Sampai itu dimasukkan ke dalam air mendidih, bagian dalam telur itu menjadi keras. Namun, biji kopi itu sungguh unik. Setelah mereka terkena air mendidih, mereka mengubah air dan menciptakan sesuatu yang baru.

"Ketika kesulitan mengetuk pintumu, bagaimana kamu menanggapinya? Apakah kamu seorang kentang, telur, atau biji kopi?"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar